kalajengking

Written By indrahuazumenggonggong On 07 February 2010

Kalajengking adalah sebuah arthropoda dengan delapan kaki, termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Dalam kelas ini juga termasuk laba-laba, harvestmen, akarina, dan caplak. Ada sekitar 2000 spesies kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali New Zealand dan Antarctica


----
di atas adalah info singkat tentang kalajengking dari mbak wiki
----

Kalajengking saya adalah kalajengking mekanis, tidak memiliki kaki-kaki beruas untuk berjalan. Berjalan dengan mengandalkan sistem motorik yang dihubungkan dengan sistem rantai pada dua ban silindris. Tanpa makanan atau minuman, tapi hidup dengan bahan bakar.



lebih di kenal dengan scorpio. kalau saya lebih suka menyebutnya dengan "kalanjengking".
Mesin motor ini bertipe empat langkah, dengan SOHC pendingin berdiameter dan langkah : 70x58 mm. Volume silinder :223 cm dengan perbandingan kompresi 9.5 : 1. Rem depan menggunakan cakram double piston, rem belakang menggunakan tromol. Dimensi standar motor scorpio adalah 2020 x 770 x 1090 mm. Daya maksimumnya 19 PS/8.000 RPM, Torsi Maksimum : 1.86 kgf.m/6.500 RPM.
-----info dari wiki-----

Kenapa motor ini diberi nama scorpio? kadang saya memikirkan kaitan antara keduanya. Sungguh berbeda sebenarnya. Kalajengking kerap menaikkan tubuh bagian belakangnya, sehingga sering terlihat "njengking", sedangkan motor scorpio yang menggunakan sistem monocross kerap terlihat "njengat" ke depan seperti motor-motor Harley. Kalajengking juga hewan yang tidak cukup lincah berlari meski memiliki kaki yang banyak, sedangkan motor scorpio cukup lincah untuk dikendarai, cukup kencang, dan mudah dikendalikan. Kalajengking beracun, dan motor ini tidak memberikan racun sedikit pun. Bahkan bagi saya memberi keuntungan. Lalu kenapa di beri nama scorpio?

*menunggu jawaban dari Yamaha

-setengah tahun bersama kalanjengking-

Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Digg
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Reddit
  • Technorati
  • IndianPad
  • YahooMyWeb

Analisa Sosial, sebuah pembelajaran

Written By indrahuazumenggonggong On 03 February 2010

Minggu kemarin saya mengikuti kegiatan Analisa Sosial (ansos) di Salatiga yang diadakan kampus saya. Kegiatannya menarik, mencoba menggugah kami para kaum muda untuk dapat peka dan mengerti masalah-masalah sosial yang ada, melihat lebih dalam sehingga mampu mencari akar dan mencoba membentuk penyelesaian. Memang terasa berat, bahkan baru sampai ke tahap penemuan masalah-masalah sosial saja saya sudah merasa berpikir terlalu berat. Sosial, yang dibahas adalah hubungan manusia dengan manusia, sedangkan manusia itu sendiri selalu berkembang. Sulit, tapi menarik. 

Rangkaian ansos ini dimulai dengan live in selama 3 hari. Saya mendapat kesempatan live in di tempat "juragan" lele. Pengalaman bagus juga, saat saya tinggal di sana. Sosok juragan lele yang saya kira sudah berumur, berkeluarga, ternyata berbeda sekali. Dia sosok pemuda yang mandiri dan berprinsip. Rumahnya hanya rumah kayu kecil dengan satu ruangan saja (menjadi kamarnya), dan rumahnya berada di pinggir kolam-kolam lele-nya yang begitu luas. Di seberang rumah kayunya ada satu rumah kecil lagi (tapi dari batu-bata) untuk tinggal dua orang pegawainya. Kehidupan baginya sungguh mengalir dengan deras, dan ia ada di dalamnya. Mengalir saja menjalani hidup, tapi tidak pernah terperosok terhempas arus. Hidup yang dijalani penuh kebahagiaan dan rileks, tapi juga hidup yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Saya menemukan sosok orang yang terlihat kosong tapi sungguh berisi. Bukan orang yang terlalu merendah dalam candu kehidupan, bukan orang yang terbang bebas di atas kehidupan. Tapi memang tidak ada yang sempurna, bahkan orang yang saya kagumi ini pun juga memiliki kekurangan. Tapi itu tidak mengurangi rasa bangga saya. Hidup bersama juragan lele ini membuka wawasan dan sudut pandang saya. Uang dan kekayaan itu enak dinikmati saat kita merasakan cukup, bukan berlebih.

Setelah kembali dari live in, saya dan peserta ansos yang lain berkumpul lagi selama 3 hari. Kami mengadakan sharing, studi kasus, pemetaan masalah sosial, dan lain-lain. Kami dilatih untuk segera peka terhadap kenyataan hidup sebelum besok kami sudah turun dan terjun langsung sebagai pribadi mandiri di kehidupan. Masalah yang paling menarik untuk saya adalah tentang ketidakadilan. Ada persepsi yang berkata bahwa di dunia ini sedang terjadi ketidakadilan yang terorganisir dengan rapi. Ketidakadilan yang bahkan terkesan wajar dan normal. Tapi kata saya, ketidakadilan itu relatif. Bahkan dari awal kehidupan kita, ketidakadilan sungguh berasa relatif bagi saya. Orang terlahir kaya, terlahir miskin, terlahir pintar, terlahir cacat, terlahir terbelakang, sungguh relatif bagi saya. Dimana letak ketidakadilan jika pada akhirnya hidup itu ada di tangan kita. Hidup yang penuh pilihan, dan kita bebas lepas untuk menentukan pilihan.Bagaimana? Pilihan-pilihan kita bahkan tidak mampu adil untuk diri kita sendiri, sungguh relatif. Itu menurut saya. Tapi teman-teman saya dalam ansos juga memiliki pemikiran-pemikiran sendiri tentang masalah-masalah sosial yang ada, termasuk ketidakadilan. 

Proses ansos belum selesai di sana, kami masih akan menyiapkan satu hari lagi untuk kembali berkumpul dan berdiskusi bersama kembali. Pengalaman menarik dapat ikut analisa sosial ini, pengalaman yang memberikan pembelajaran.



-think globally act locally-

Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Digg
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Reddit
  • Technorati
  • IndianPad
  • YahooMyWeb