hanya DIA

Written By indrahuazumenggonggong On 20 July 2009

Aku termenung di bawah mentari
di antara megahnya alam ini
menikmati indahnya kasih-Mu
kurasakan damainya hatiku

sabda-Mu bagai air yang mengalir
basahi panas terik di hatiku
menerangi semua jalanku
kurasakan tenteramnya hatiku

jangan biarkan damai ini pergi
jangan biarkan semuanya berlalu
hanya pada-Mu Tuhan
tempatku berteduh
dari semua kepalsuan dunia

bila ku jauh dari diri-Mu
akan kutempuh semua perjalanan
agar selalu ada dekat-Mu
biar kurasakan lembutnya kasih-Mu


teringat saat masa-masa dahulu, hidup penuh ketenangan dan perenungan. Setiap rintangan, godaan, apapun yang membuat hati ini bergoyang, yang membuat rasa ini miris, yang membuat air mata berlinang, selalu ada tempat untuk menyampaikan. Tuhan itu seakan ada di depan mata, ada di manapun aku melangkah, ada di dalam dekapan tidur dan mimpi ini. sebegitu menakjubkannya sosok Tuhan di hari-hariku dahulu, ya itu dulu. Menjadi bingung sendiri, indah kah dahulu daripada sekarang? padahal pilihanku yang sekarang berbasis dari kehidupanku yang dulu. Yang jelas, semua nampak perbedaannya.

Menyakiti hati seseorang, dahulu benar-benar nampak membekas sekali. membuat orang lain kecewa, membuat orang lain merasa tidak dihargai, semua perasaan-perasaan itu seakan terasah dengan hebat. Sensitivitas diri ini meningkat ke 100 % maksimal. Hingga akhirnya gerak-gerik dan perilaku yang aku lakukan menjadi terlalu terkontrol diri dan perasaan ini. Tapi sekarang semua terasa begitu lepas kendali. Perasaan menjadi bekerja setelah perbuatan terjadi. Akibat-akibat yang ada lah yang membuat perasaan ini bekerja. Perasaan seakan tidak mampu mengendus dan mencium bau kejanggalan tindakan. Memang, sekarang aku jarang menyapa Dia, apa yang aku rasakan, yang membuat aku gundah, yang membuat pikiran ku bekerja keras sering aku atasi dengan kesombongan diri. Merasa lebih dan mampu, satu kesalahan besar hidupku.


"Tuhanku sama dengan Tuhanmu, Tuhanku bukan Tuhan yang aku ciptakan sendiri, Tuhanku adalah Tuhan yang memberikan ketenteraman hati untuk semua manusia yang membutuhkan"

Hanya sebuah ungkapan untuk menyatukan kita semua..


Saat-saat ini sering mengalami kesendirian dan kekosongan. Dahulu aku tahu, dimana tempat aku harus melampiaskan, bagaimana caranya, dan kepada siapa. Sekarang aku juga tahu, tapi kenapa aku tidak mau melakukannya? Ragukah aku akan kedigdayan-Nya? Malah mencari-cari cara lain yang aku tahu pasti itu hanya semu. Siapapun dia yang menggantikan Dia, tidak akan mampu membuat hati ini setenang dulu. That's why, aku merindukan hal yang selalu ingin aku tinggalkan jauh-jauh.

Tulisan ini aku tulis ketika aku merasakan kekeringan yang begitu dalam malam ini. Perasaan gundah ini bercampur aduk sungguh tak menentu. Manusia sekuat apapun, se-atheis apapun, akan tetap merasakan kekeringan yang benar-benar menyiksa. Kenangan masa lalu yang berlimpah akan kasih-Nya kadang semakin membuat kekeringan ini semakin kerontang. Sedikit melepas topeng jaim, kembali membuka diri untuk cara kenangan masa lalu pasti bisa menyembuhkan diri ini. Tapi, kenapa masih saja merasa ragu...atau malu?

"kamu di mana? Aku merindukanmu"
"aku juga mencari Mu, tapi aku tak tahu jalan mana yang harus aku tempuh selain jalan masa laluku"
"Aku yang akan datang padamu"

seperti itulah Dia akan selalu menggenggam erat tangan kita, meski kita sudah melepas genggaman itu.





Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Digg
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Reddit
  • Technorati
  • IndianPad
  • YahooMyWeb

One Comment

Leave a Reply

monggo silahkan menggonggong