Perempuan's Bunga Teratai

Written By indrahuazumenggonggong On 12 July 2009

Tugas ujian Etika Sosial dari mas Mahatmaberkata-kata

Perempuan’s Bunga Teratai

-sebuah review film pendek berjudul “Cerita Yogya—Chants From a Tourist Town”, dari sebuah omnibus film berjudul “Perempuan Punya Cerita—Chants of Lotus”-

Bunga teratai milik perempuan, begitulah terjemahan “ngawur” dari judul review film ini. Kenapa bunga teratai? Judul omnibus film yang akan saya review ini berjudul Chants of Lotus, lotus itu sendiri berarti bunga teratai. Filosofi bunga teratai yang tumbuh anggun dan penuh harga diri di lingkungan berlumpur dijadikan sebagai dasar dalam penggambaran sosok seorang perempuan yang senantiasa mempertahankan harga diri dalam kondisi terburuk sekalipun. Perempuan yang memiliki keanggunan “lotus” di dalam dirinya.

Sebuah Jeritan Hati Kaum Hawa Atas Kejamnya Perlakuan Dunia
Sepanjang itulah tulisan yang mengikuti judul film ini di covernya. Dari subtitle di atas saja kita pasti sudah dapat menebak tema besar apa yang ingin disampaikan dalam film ini, yakni tentang kaum hawa—perempuan, yang sedang menjadi “korban” kejamnya dunia. Film ini menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan perempuan itu lebih rumit dari sekedar drama-drama yang ditampilkan di sinetron-sinetron di televisi. Permasalahan-permasalahan yang pada akhirnya menjadikan perempuan merasa menjadi “korban”. Dalam 4 cerita pendek, film ini membahas mengenai permasalahan yang terjadi pada perempuan di sekitar kita (berarti memang benar-benar terjadi) yakni : aborsi , seks bebas, perdagangan perempuan, hingga penyakit HIV-AIDS.
Mengapa perempuan menjadi “korban”? Hal ini sebenarnya bisa dilihat dari sejarah manusia. Betapa perbedaan gender amat kuat di masa lampau bahkan di seluruh dunia, dan di Indonesia sendiri masalah perbedaan gender ini baru mulai terlihat perlawanannya ketika muncul sosok seorang Kartini. Latar belakang dunia yang patriarki ini lah yang membuat perempuan menjadi serasa diturunkan satu tingkat levelnya dari laki-laki. Budaya patriarki yang melenceng sedikit demi sedikit, memberi artian yang sangat keliru. Bahwa hubungan pria dan perempuan adalah berupa hirarki, pria menentukan dan perempuan ditentukan. Warisan dunia patriarki ini juga yang membuat beberapa manusia sekarang kurang percaya dengan kemampuan perempuan dalam hal apapun. Pembedaan gender inilah yang bisa melahirkan tindakan merendahkan dan melecehkan perempuan. Meski ada yang pernah berkata bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan menjadi hak pria untuk menganggap perempuan dari tulang rusuknya itu sebagai miliknya pribadi—yang bebas diperlakukan semaunya. Budaya patriarki sebenarnya diciptakan agar pria menjadi pusat—menjadi pusat berarti menjadi inti yang mampu melindungi sekelilingnya, termasuk perempuan. Patriarki bukan berarti pria “lebih” dari seorang perempuan maka menjadi yang lebih dihormati. Tetapi tidak banyak yang peduli, maka dari itu sampai ada sebuah jeritan hati kaum hawa atas kejamnya perlakuan dunia. Pria dan wanita memang berbeda, tapi tidak bisa dijadikan alasan kita untuk membeda-bedakannya.

Cerita Yogya
Film pendek ini disutradarai oleh Upi Avianto, bercerita tentang pergaulan anak muda yang sudah melakukan seks bebas semenjak usia belasan tahun. Film pendek ini mengalami sensor paling banyak dari serangkaian film Perempuan Punya Cerita. Adegan bercinta Safina (Kirana Larasati) dan seorang wartawan dari Jakarta bernama Jay (Fauzi Baadila) dipotong hampir 90 persen. Film ini menunjukkan betapa bahayanya ketika remaja memperoleh informasi mengenai seks yang bukan berupa edukasi secara patah-patah. Informasi-informasi yang menyebar luas itu dapat diakses dengan mudah di internet. Lebih berbahaya ketika informasi-informasi itu dijadikan sebuah budaya alias ”yang gak mudeng seks berarti gak banget!”. Dan saat hal itu terjadi, tinggal menunggu waktu sampai seks bebas menjadi kegiatan “wajar”.
Adegan menarik dalam film ini adalah ketika teman Safina hamil, kemudian “para lelaki” mengambil undi (yang ternyata juga undian palsu) untuk menentukan siapa yang harus bertanggung jawab menjadi ayah dari bayi tersebut. Dari adegan undian ini saja sudah menunjukkan fakta sosial yang “rusak”. Kita melihat sosok-sosok pria tidak bertanggungjawab disana, kita melihat persahabatan palsu yang dibumbui dengan cerita-cerita penuh keakraban, kita melihat kuat-rapuhnya perempuan yang hamil di luar pernikahan, kita melihat segala hal di sekitar seks bebas adalah hal-hal yang tidak menunjukkan sifat kemanusiaan. Bahkan Safina yang dengan teguh mempertahankan keperawanannya akhirnya kandas juga oleh seseorang yang ia pikir adalah “right man” untuknya. Kenapa hal ini terjadi? Karena paradigma yang dibangun adalah keperawanan (baik pria maupun wanita) dijaga sampai kita menemukan orang yang tepat—PADAHAL seharusnya keperawanan itu dijaga sampai kita menemukan orang yang tepat DAN telah diresmikan oleh pernikahan. Seperti inilah budaya, agama dan adat istiadat bekerja di sekitar kita dengan keras, tapi ternyata kebebasan-kebebasan fiktif dan pemikiran-pemikiran baru menciptakan caranya sendiri. Perempuan lagi yang menjadi korban dalam cerita ini.
Film ini menggunakan kota Yogya seting tempatnya. Kenapa Yogya? Sesuai dengan inti dari cerita yang sebenarnya berjudul ”Chants From a Tourist Town”, cerita dari kota turis. Dalam hati sebenarnya berpikir, mengapa bukan Bali?—yang lebih dikenal sebagai kota turis di Indonesia ini. Mungkin (menurut analisis pribadi saya) karena Yogya tidak sekedar menjadi kota turis untuk turis dari luar negeri, tetapi juga menjadi kota turis untuk “turis-turis lokal”. Turis lokal yang saya maksud adalah pendatang-pendatang baru dari luar kota yang menjadi pelajar di kota pelajar tersebut. Dapat dilihat secara langsung kalau kita mampir ke kota Yogya, kita akan melihat anak-anak muda sebagai pelajar berlalu-lalang di tiap sudut kota Yogya. Karena justru pendatang lokal itu lah yang membawa pengaruh langsung bagi remaja Yogya sebab merekalah yang hidup berdampingan secara langsung.
Wajar-kah apa yang diceritakan dalam film tersebut tentang para remaja Yogya? Menurut saya masih ada sedikit sifat melebih-lebihkan dalam penggambarannya di film tersebut. Dalam sebuah artikel di rumahfilm.org juga mengatakan bahwa apa yang dipaparkan dalam film itu justru tidak menggambarkan Yogya dengan tepat. Upi menggunakan latar belakang Malioboro, Wijilan, Stadion Kridosono dan Tugu dalam seting kota Yogyanya. Dikatakan bahwa Stadion Kridosono adalah tempat yang akan ramai jika ada konser musik saja, bukan sebagai tempat olahraga, bukan juga untuk tempat nongkrong anak muda. Di Malioboro digambarkan ada anak-anak muda yang mencari film porno—jika anda pergi ke Malioboro, anda tidak akan menemukan penjual CD-DVD film porno di sana. Dari segi isi cerita film, di awal film ada adegan seorang wanita yang berteriak-teriak pada seorang pria karena teman wanita itu yang pacar si pria hamil karena pria itu. Dari adegan ini saja sudah terkesan aneh dan asing untuk sebuah ukuran Yogya. Meski di Yogya banyak pelajar-pelajar perempuan yang suka clubbing, merokok diam-diam, atau bahkan berhubungan seks, tetapi untuk berteriak-teriak membicarakan hal tak wajar dirasa tidak mungkin. Anak muda yang ada justru lebih menggambarkan anak muda di Ibu kota yang lebih berani tanpa tedeng aling-aling. Ada juga adegan ketika seorang ibu-ibu berjilbab pemilik rumah yang dipakai untuk berkumpul para muda-mudi merokok bersama, bermesraan, minum miras, Ibu berjilbab itu hanya lewat sambil berbasa-basi ramah. Di kehidupan nyata tidak mungkin kita temukan ada ibu-ibu yang ‘berjilbab’ hanya berdiam melihat lingkungan di sekitarnya seperti itu—apalagi di Yogya. Penggambaran kota Yogya untuk setting tempat film ini tidak terlalu tepat. Jalan cerita dan adegan yang ada memang runtut dan diceritakan dengan tepat. Maksud yang ingin disampaikan dapat tercapai dengan cepat pula. Tetapi dalam film ini tetap ada ekstremisasi dari realitas yang ada. Setidaknya untuk kota Yogya, meski banyak survey yang mengatakan bahwa angka keperawanan pelajar Yogya paling rendah tetapi budaya Jawa yang kental tidak akan mengijinkan kevulgaran bebas begitu saja dalam pergaulan sehari-hari. Warga Yogya yang melihat film ini mungkin hanya akan mengatakan “itu hanya bumbu film”, tapi tetap saja sebagai warga Yogya pasti merasa sedih jika kota kelahirannya digambarkan seperti itu. Lebih terlihat wajar jika remaja yang ada di film tersebut adalah pelajar-pelajar pendatang, bukan warga asli. Begitu pula di daerah dan lingkungan sekitar saya. Kenyataan seperti itu ada, namun tidak menjadi kevulgaran yang dapat dilihat di mana-mana.

Seks Bebas-Kaca Mata Etika Sosial
Seks bebas di mata Etika Sosial menjadi hal yang salah dan tidak baik untuk di lakukan karena pastinya memiliki kerugian bagi pihak lain di mata sosial. Jika kita memakai prisip sikap baik saja, seks bebas sudah tidak masuk dalam kriteria di dalamnya. Dari film dapat kita lihat bahwa hal-hal yang terjadi di sekitar kegiatan seks bebas bukanlah hal-hal yang baik dan terbukti merugikan banyak pihak. Dari prinsip keadilan pun seks bebas tidak mendapat poin sedikitpun. Dari subtitle film ini saja sudah terlihat bahwa keadilan tidak dirasakan dari sudut pandang para perempuan yang terlibat di dalam seks bebas. Dan dari prinsip yang terakhir, menghargai diri sendiri. Saya rasa menghargai diri melalui melampiaskan nafsu apalagi dengan lebih dari satu orang dalam waktu yang tidak tepat bukanlah cara menghargai diri yang tepat.
Masalah etisnya adalah akibat-sebab yang ada dalam seks bebas itu sendiri. Seks bebas diikuti dengan tindakan-tindakan yang bersifat egois dan merugikan orang lain. Sebagai contoh (dalam film), ketika para lelaki membuang undi untuk menikahi seorang gadis yang mereka gilir. Dalam hal ini mereka merugikan dan tidak memandang perasaan sang perempuan dan teman mereka yang mereka curangi dalam pengundian. Menjadi masalah etis karena sudah merugikan orang di sekitarnya atas apa yang dilakukan. Menjadi masalah etis yang lebih luas lagi, ketika ternyata pria yang dikencani Safina adalah seorang wartawan. Dan wartawan tersebut meliput, menulis dan mempublikasikan semua yang ia lihat selama ikut pergaulan di Yogya tersebut. Terlihat ketika nama SMA Safina menjadi ikut tercemar, Yogya sebagai kota Budaya juga ikut tercemar. Hal ini terjadi hanya karena segerombolan pemuda-pemudi bergaul bebas tanpa batas seperti ini.
Seks sebenarnya sangat indah dan agung. Banyak agama dan kebudayaan yang mengajarkan seks sebagai hal yang mulia, tidak tabu tapi begitu anggun. Seks itu hal yang timbul dari cinta, cinta sendiri kadang digambarkan sebagai perasaan yang seharusnya mendasari segala tindakan kita. Mungkin karena itulah, mengapa Tuhan memberikan rasa yang nikmat sekali pada saat berhubungan seks. Sayangnya dalam seks bebas, orang-orang yang terlibat di dalamnya meninggalkan kata “cinta” sehingga seks yang ada di sana hanya tinggal pelampiasan nafsu saja. Untuk sekedar mengingatkan, sebelum akan terlibat dalam kegiatan seks bebas (hal ini yang saya takutkan, karena kemungkinannya sangat besar bahwa seks bebas akan menjadi kegiatan yang biasa dan lambat lalu menjadi kegiatan yang halal), ingat tentang cinta yang diberikan Tuhan kepada kita, maka kita juga sebaiknya melakukan apapun juga dilandasi dengan rasa cinta.

Perempuan’s Bunga Teratai
Jeritan perempuan dalam cerita pendek ini memberi gambaran perempuan dalam berbagai masalah hidup, tapi juga memberi gambaran perempuan yang tetap masih mampu berjuang-berubah-bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Meski dibalut dalam tubuh yang lembut dan rapuh, perempuan sebenarnya memiliki jiwa yang lebih kuat dan stabil untuk menjadi pribadi berprinsip dan mandiri. Bagi saya sendiri, semoga film ini memberi kesadaran bagi para perempuan. Di sini sudah ada perempuan yang berjuang untuk kaum perempuan, jangan sampai perjuangan ini dinodai sendiri oleh kaum perempuan dengan membiarkan dirinya terjatuh dalam lumpur kotor dan akhirnya hanya menyesal. Dan untuk para pria-pria, termasuk saya—film ini menjadikan saya jauh lebih menghargai wanita dari sekedar fisik yang terlihat mata saya. Menghargai di sini juga sebagai melindungi. Tanpa cinta, saya tidak akan mampu lagi menatap dalam-dalam seorang perempuan.

KAMI BUKAN LAGI BUNGA PAJANGAN
YANG LAYU DALAM JAMBANGAN

INDAH DALAM MENYERAH
MOLEK TIDAK MENENTANG
KE SORGA HANYA MENUMPANG

KAMI BUKAN JUGA BUNGA TERCAMPAK
DALAM HIDUP TERINJAK-INJAK…
(Lekra Sugiarti)


Sumber inspirasi:
1. Perempuan punya cerita- http://semuareview.wordpress.com/2008/01/24/perempuan-punya-cerita/
2. Cerita pulau, yogyakarta, cibinong, dan Jakarta-http://rekamankehidupanseseorang.blogspot.com/2008/01/cerita-pulau-yogyakarta-cibinong-dan.html
3. anti patriarki- http://amienstein.tripod.com/id83.html
4. Eksotisme Yogyakarta dalam Film Indonesia- http://rumahfilm.org/


Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Digg
  • Sphinn
  • Facebook
  • Mixx
  • Reddit
  • Technorati
  • IndianPad
  • YahooMyWeb

3 Comments

Leave a Reply

monggo silahkan menggonggong