Refleksi panitia PPS angkatan 42 –willingness to do more-
Ketika mendengar seruan “willingness to do more” dengan isak tangis dan gelak tawa semangat dari angkatan 42, saat itulah saya benar-benar merasakan semangat yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan dalam suatu komunitas atau kelompok manapun. Bahkan saat itu saya tidak termasuk langsung dari bagian komunitas itu, tapi tetap saja getarannya ternyata mampu meresonansi frekuensi getaran diri saya. Ini yang benar-benar hebat yang saya lihat dari angkatan 42. Semangat dan emosi (dalam arti positif) yang mereka ciptakan mampu memberikan impact yang besar-tidak hanya di dalam komunitas mereka sendiri- BAHKAN mampu memberi effect hingga orang-orang di sekitar mereka.
1. sense of belonging
Rasa memiliki, baik rasa memiliki dalam tubuh komunitas angkatan 42, maupun rasa memiliki dalam kaitan yang lebih besar—keluarga kolese mikael. Ketika mereka ditempa dengan stressing yang begitu besar, mereka tetap tidak kehilangan kesadaran bahwa mereka merupakan anggota suatu komunitas besar. Didasari apalagi jika tidak rasa cinta yang tulus satu sama lain. Meski pada awalnya egoisme diri mereka begitu besar dan kuat, tapi ternyata ego itu hanya batu karang kecil yang tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan semangat mereka. Hingga pada akhirnya rasa memiliki itu muncul dari benih-benih kecil. Hingga menjadi tunas dan tubuh subur mengakar pada diri mereka.
2. tepo seliro
Atau tenggang rasa. Rasa ini pun muncul setelah kami para panitia lama menanti. Sekali lagi egoisme menjadi karang utama untuk memunculkan rasa ini. Tapi ketika rasa ini muncul, begitu saja kami mampu berbangga pada komunitas ini. Rasa tenggang rasa ini terlihat kencang ketika ada orang dalam komunitas mereka terluka, bahkan termasuk ketika orang-orang di luar mereka terluka, angkatan ini mengeluarkan rasa untuk orang-orang ini.
3. kejujuran
Hal paling crucial yang dijunjung tinggi ATMI. Hal ini pula yang paling kami tekankan pada diri mereka. Dan hal ini bermunculan begitu bervariasi. Karena ternyata kejujuran itu tidak dapat berdiri sendiri, tapi juga berdampingan dengan berbagai rasa yang ada dalam suatu komunitas. Dan kami sebagai panitia mengerti sekali akan kodisi tersebut. Maka dari itu kami tetap menekankan bahwa kejujuran itu hal yang prioritas dan pasti apapun yang didasari dengan kejujuran akan melahirkan hal-hal yang baik, termasuk suatu komunitas yang dilandasi suatu kejujuran juga. Tidak berselang lama, mereka akhirnya mengerti dan mulai menjunjung tinggi sebuah nilai kejujuran.
4. keluarga
Komunitas, jika didasari kekeluargaan, akan tidak sulit untuk berkembang. Dan seperti apa ciri komunitas itu berdasar kekeluargaan? Sulit memang membuat parameter yang jelas mengenai itu. Tapi dilihat dari effect yang terjadi, kita sudah dapat menerka; ini komunitas kekeluargaan atau komunitas berbasis profit. Dan benih kekeluargaan, bagi saya pribadi, sudah ada. Meski masih berupa benih, tapi ini adalah benih tersubur yang pernah saya rasakan. Maka saya berani menyebut komunitas ini sebagai “KELUARGA ATMI 42”.
5. willingness to do more
Ini nilai yang paling JOS dari mereka yang kami lihat. Ketika dari hari ke hari, mereka banyak melakukan kesalahan-kesalahan, ketika itu pula mereka selalu berpikir, berkonsep, dan beraktivitas untuk melakukan lebih baik di hari esok. Semoga saja nilai ini tidak hanya ditunjukkan di hari-hari PPS, tapi menjadi prinsip hidup hingga nanti mereka menemukan nilai yang lebih baik lagi.
Kami dari panitia merasa bangga—tidak hanya puas akan pekerjaan kami, tapi effect positif yang diciptakan keluarga besar angkatan 42 ATMI ini benar-benar memberi kami poin-poin penting dalam hidup. Bahwasanya kami ini mampu menciptakan semangat MAGIS dalam diri orang lain, pastinya kami juga mampu menciptakan semangat itu dalam diri kami. AMIN













No Comments
Leave a Reply
monggo silahkan menggonggong