30 May 2009

safari panggilan

rasanya seperti ditampar kembali, apa yang pernah aku beri, tiba-tiba diberikan kepadaku oleh orang lain. lucu sekali.

dulu setiap kali selalu bercerita tentang pilihan hidup berproses dalam imamat. bercerita tentang gundah gulana hati, tentang godaan-godaan diri dalam menjalani panggilan. menyebarkan berita kemana-mana sembari memainkan lagu-lagu melalui biola. itu dulu, bercerita ke adik-adik kecil bahwa hidup itu tidak hanya menikah dan punya anak, tapi juga ada pilihan hidup yang lainnya, menjadi selibat-imamat.

dan tadi, aku mendapat safari panggilan dari teman-temanku yang masih setia berjuang di jalan berproses imamat. seperti dejavu tapi berganti peran.

setiap kata yang terdengar, setiap itu pula bibir ini tersenyum. rasa lucu ini bercampur kangen yang mendalam ternyata. hebat ya kuasa-Nya

24 May 2009

taman pintar

minimal, pernah tau taman pintar..

lha menjadi pintar tidak??
percaya tidak, saya tidak percaya dengan pintar-bodoh. saya ndak percaya Gusti (dalam konteks kita percaya ada Gusti) nyiptain orang pintar-bodoh. wong saya ini pintar, wong saya ini bodoh. apa peduli kalian.
einstein pintar kah?teory of relativiy..??? e=mc2??? Newton???siapapun lah...
jare temenku, kita2 ini, semua2 ini cuma manusia biasa. diciptakan secara Tuhani (diksi ne jelek) sebagai manusia biasa, tapi secara manusiawi memiliki usaha berbeda-beda.

jenius??? baiklah, kalo ada yang dianggap jenius..
tapi jangan sampai, hanya karena ada istilah 'pintar', 'jenius', 'brilian'... lalu kita ciptakan juga istilah 'bodoh', 'terbelakang', 'lemot' untuk manusia-manusia yang sama biasanya.

manusia yang manusiawi
humanior(tanpa a)

23 May 2009

brotherhood




21 May 2009

Brana Kamulyan—Sore Hari

Setiap hari selalu sama, yang membedakan hanya saat sore hari. Saat sore hari, manusia-manusia di sekelilingku melakukan hal yang berbeda setiap harinya. Padahal dari pagi sampai siang, mereka selalu melakukan hal yang sama setiap hari. Sore hari memang selalu berbeda. Langitnya pun selalu beragam, berbeda warna setiap harinya. Aku hidup dalam sebuah komunitas, dan komunitasku sangat mencintai sore hari.

Teman-teman memanggilku si Mul, namaku Brana Kamulyan. Hidup dalam sebuah komunitas itu senang-senang susah. Komunitasku itu berarti hidup bersama, tidur di tempat yang sama, melakukan rutinitas-rutinitas bersama. Komunitas hidup. Kami hidup dalam satu bangsal besar, dengan tempat tidur yang ditata berjejer-jejer seperti di barak pertempuran. Bangsal ini juga saksi pertempuran kami kok, bukan pertempuran bersenjata—tapi hanya pertempuran hati.

Suatu sore hari (ini sore hari yang benar-benar berbeda, baik langitnya, maupun kegiatannya), kami (aku dan komunitasku) pergi keluar sejenak. kami berjalan ke arah terminal kota terdekat. Waktu itu kami mau mencari tiket untuk pulang kampung minggu depan. Sekalian mencari tiket, sekalian berjalan-jalan. Sebelum terminal, ada sebuah pabrik kecil. Waktu iku sekitar jam setengah 4 sore, di luar pabrik dipenuhi motor-motor (mungkin para penjemput pekerja-pekerja pabrik). Kami melenggang melewati pabrik itu dan terus meneruskan perjalanan kami menuju terminal.

Sepulang dari terminal, kami berjalan kembali melewati jalur yang sama saat kami berangkat—kami melewati pabrik itu lagi. Kali ini sekitar pukul 4 seperempat sore. Kali ini suasana lebih ramai, sekitar ratusan pekerja parbrik berbondong-bondong keluar dari gerbang pabrik. hampir 90% dari mereka adalah pekerja perempuan. Suasana sungguh ramai dan penuh hiruk pikuk. Terlintas sebentar di benakku, kalau setiap hari seperti ini, berarti setiap hari di sore hari jalanan di sini selalu macet dan penuh hiruk pikuk pekerja pabrik. anda dapat bayangkan? Kejadian yang “ribut” ini terjadi setiap harinya—setiap sorenya—dan menjadi kebiasaan sehingga siapapun yang melewati jalur ini hanya terdiam menatap kebiasaan ini. Tapi memang, orang-orang dan kendaraan-kendaraan yang melewati pabrik ini tampak tidak terganggu dengan situasi ini (tampak tak terganggu=tampak sudah terbiasa). Karena semua orang seperti terbiasa, aku mulai ikut-ikut terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Kemudian tiba-tiba dari arah pabrik tersebut ada suara memanggilku;

“Mas Mul……Mas Mul…….!”

Tersentak dengan wajar aku langsung celingukan mencari sumber suara tersebut. Dari arah sebelah timur pintu gerbang pabrik tersebut ada seorang laki-laki dengan sepeda motor hitam dikendarainya tampak menatap aku dengan tangan melambai. Tanpa pikir panjang, aku datangi saja dia. Ternyata Mas Sugeng, orang yang jualan angkringan di depan rumah komunitasku.

“Weh, Mas Sugeng. Wonten napa ten mriki mas?”

“Nembe methuk nyonyah og Mas Mul, nyonyah kan nyambut gawe ten mriki”.

“Oalah, nggih pun. Aku tak ndhisik ya Mas, kae wes dienteni cah-cah.”

“Njih mas, monggo…”

Aku meninggalkan mas Sugeng ditengah keramaian arus sekitar pabrik. kali ini arus kendaraan benar-benar semakin parah. Kendaraan dari jalan raya tidak peduli dengan kendaraan para pekerja pabrik yang hendak menyeberang (bayangkan jumlahnya ratusan), mereka tetap memacu kendaraan mereka sekencang mungkin. Suasananya benar-benar kacau yang nyaman, sama-sama tidak peduli. Aku pun melenggang, sebenarnya dalam hati merasa janggal juga, tapi bisa berbuat apa?

Malam harinya, rumah komunitasku mendapat berita geger. Mas Sugeng, pedagang angkringan depan rumah kami ternyata mengalami kecelakaan saat sore hari tadi. Usut punya usut, kecelakaan terjadi dengan cara “nyaman menyakitkan”. Bayangkan jika anda ditabrak kendaraan berkecepatan tinggi, anda terjatuh, tapi tak seorang pun di sekitar anda peduli dengan anda, justru tersentak, terbelalak, memandangi, kemudian memaki penabrak, bahkan ada yang melirik sambil melanjutkan perjalanannya. Sore hari tadi yang benar-benar berbeda ternyata juga memberi hal yang begitu berbeda. Apa langit sore hari seperti ini menjadi berita alam?

Kami satu komunitas pun pergi ke rumah Mas Sugeng untuk menjenguknya.

Sore keesokan harinya, iseng-iseng aku melewati daerah sekitar pabrik itu. Kali ini aku menaiki sepeda motor, tidak berjalan kaki seperti kemarin. Aku melewati pabrik tersebut tepat pukul 4 seperempat sore. Suasananya tetap sama, hiruk pikuk, ramai, suasana kacau yang nyaman. Insiden kecelakaan kemarin sore ternyata tidak mengubah suasana apapun di sini. Bahkan juga tidak menggerakkan hati siapapun di sini—karena saya melihat mata orang-orang yang berlalu-lalang di sini, pandangan mereka tampak tertuju pada satu hal tanpa peduli sekitar.

Lucu ya, manusia yang dimana-mana membanggakan dirinya sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki otak untuk berpikir untuk semakin berkembang dan membentuk budaya yang paling unggul diantara makhluk apa pun di bumi—TERNYATA, tidak mampu belajar dari pengalaman-pengalaman kecil yang ada untuk membentuk habit yang lebih baik.

Mungkin, manusia-manusia jaman ini sudah masuk dalam “zona aman” mereka masing-masing untuk harus melihat keluar kembali.

krisis

setiap malam setelah berkelana di dunia maya, melihat isi dunia (khususnya jelajah facebook--melihat foto2--membaca wall2), entah kenapa merasa ada krisis besar dalam diri. hal ini menyangkut pribadi saya secara egois, bukan pada siapapun yang terkait. merasakan krisis kepercayaan, krisis iman, krisis tujuan hidup, krisis macam2 lah. kenapa saya sebut krisis?/ karena menyebabkan rasa tangis dalam hati, perut, mata, pikiran. sampai seburuk itulah krisis ini datang pada saya.
salah jaman, salah manusia, salah teknologi, atau salah siapa. sampai sejauh ini, apakah menangkap hal yang menyebabkan krisis dalam pribadi saya?
begitu gemerlapnya dunia, menutupi tiap sisi sisi dunia yang masih kosong dan sunyi. sebisa mungkin setiap sudut tempat dan setiap detik kehidupan manusia harus diisi dengan kebingaran dan kemuliaan. setiap celah ditutupi dengan nuansa paling mewah. semakin menutup-semakin menutup.
kalau begini, bagaimana manusia bisa terdiam dan mendengar..
krisis besar pribadi saya.

17 May 2009

mencobaa

sedang dicoba, untuk berdiri di atas kaki sendiri

seperti seorang indra

kadang beberapa teman bertanya
kadang saya punya jawaban, kadang saya cuma diam[pertanda tak punya jawaban]
tapi setiap kali, saya pasti mencoba untuk mempunyai jawaban.
>>indra mencoba selalu kok, santai saja teman2.

memiliki 10 jari, setiap manusia (yang saya bicarakan yang sharusnya) memiliki 10 jari.
saya pernah melihat, seorang pejuang yang kehilangan 2 jarinya--jari kelingking dan jari manis.. tapi dia tetap berjuang, katanya cukup menggunakan jari telunjuk untuk menggunakan senjata api. saya pernah melihat yang kehilangan 5 jarinya--karena kehilangan 1 tangannya--ia adalah seorang pendaki gunung, katanya hanya butuh nyali dan kerendahan hati untuk mencapai puncak gunung, tak perlu berapa jari pun. saya pernah lihat yang tak punya jari satu pun, karena lahir dalam keadaan cacat. ia adalah seorang pemain piano,, katanya ia hanya butuh jari kakinya untuk memainkan melodi-melodi komposer mana pun.
kalau punya 10 jari, harusnya manusia sudah mampu mengubah dunia.

14 May 2009

hard to say

indra.indra.indra
breaking the habit, memecahkan kebuntuan, keselarasan, keseimbangan. menjadi goyah kembali, menjadi tak imbang lagi. kembali lagi mencari, kembali lagi memuncak.
manusia hidup dalam jangka waktu yang cukup lama. hampir 50 tahun lebih umur manusia rata-rata hidup di dunia ini. bayangkan, menjalani 50 tahun kehidupan., bayangkan jika hidupnya mendatar-rata-begitu saja, betapa bosan dihadapi seorang manusia. betapa stres seorang manusia harus menghadapi hari yang sama setiap hari, persoalan-persoalan yang sama setiap hari, penyelesaian-penyelesaian yang sama setiap hari, rasa yang setiap hari, kebahagiaan yang sama setiap hari, bahkan jalanan yang sama setiap hari. seperti drama sinetron kejar tayang, berlarian setiap hari untuk hal yang sama. kebosanan pada zona aman seorang manusia. kalau saja berani sedikit saja mengambil resiko melepas semuanya, pasti akan dimulai era yang baru dalam hidup--setiap harinya--setiap harinya.
kalau hari ini menangis, esok gak akan lagi menangis. kalau hari ini tertawa, esok gak akan lagi tertawa. semuanya dengan alasan yang sama. setiap harinya, kita ingin menangis dengan alasan yang berbeda-beda dan tertawa dengan alasan yang berbeda pula. kalau semua dengan alasan yang sama. merata.
seperti mati rasa

10 May 2009

past

masa lalu itu membayangi ya. kadang sudah berlalu begitu lama, ditutup oleh cerita-cerita indah yang baru, tapi kadang tetap saja masa lalu yang buruk kembali teringat, kembali dibahas, dan kembali ditanyakan. menjadi ragu akan keberadaan masa sekarang yang terasa begitu indah, keindahannya jadi hanya seperti kebohongan, penuh tanda tanya, krisis kepercayaan akan eksistensi masa sekarang. meragu.meragu.meragu.
50 first date. orang yang hidup selalu di masa lalu, orang yang selalu terhapus masa lalu nya. pernah nonton kan? yang diingat hanya ingatan indahnya.

seperti dulu lagi, kalau saja ingatan ini bisa aku atur sedemikian rupa.
-230307- remember?

sms diterima

suka smsan? menerima sms dan kemudian dengan tanggap membalasnya dan dalam hitungan tak sampai enam puluh detik, sms kembali diterima dan dengan tanggap membalasnya lagi. hal itu berlangsung berulang hingga salah satu berkata cukup. meski sudah berkata cukup, kadang hal itu belum selesai begitu saja, masih benar-benar harus ditutup dengan kata-kata penutup. jika tidak, salah satu pasti jadi korban. menunggu balasan sms...

09 May 2009

rewel2

dulu tak pernah, merengek2 meminta untuk meninggalkan segera
dulu tak pernah, menjerit2 meminta kembali segera
dulu tak pernah, cemberut diam hanya ingin pulang
yang ada dulu selalu terasa kurang
yang ada dulu selalu mencuri-curi waktu
yang ada dulu selalu melipatgandakan detik jadi menit jadi jam jadi hari

inginkan perubahankah?

100%

be a hundred percent!
tapi boleh donk orang menjadi hanya 10 % atau 60% atau hanya 1 %. ketika orang hanya ingin menjadi sepersekian dari dirinya. menanggalkan kesempurnaan dan keutuhan dirinya, menyelinap sejenak dan menjadi hanya sebagian kecil dirinya. membiarkan bagian yang lain tanggal dan menjadi kosong. hanya supaya dapat diisi dengan bagian-bagian lain dari alam ini.
atau kadang karena terlalu lelah, menanggalkan keperkasaan 100 persen nya, memakai jubah keletihan sepersekian persen saja.
atau bahkan ada beberapa orang yang tidak tau, seberapa 100 persenkah dia. tidak pernah tau seperti apa dirinya jjika 100 persen. yang dia tau hanya keadaan sekarang ini, entah berapa persen dari talenta yang sepenuhnya ada.

100 persen atau 1 persen, kalau capek tetap capek. hati ini capek.

03 May 2009

menenun

pernah liat orang menenun? bagaimana ya caranya, belum pernah seumur hidup melihat orang menenun. apalagi menenun manual, pasti lebih sulit lagi. bagaimana ya caranya, bagaimana bisa ada orang setekun itu, menenun helai per helai menjadi satu. memasukkan satu helai benang ke lubang jarum saja sulit, bagaimana menenun..
kenapa hayo, bisa sampai ada orang yang setekun dan seahli itu. karena hidup, yang membutuhkan uang.

uang=membuat orang berusaha mati2an

02 May 2009

redaksional animus--majalah ATMI

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Salam jurnalistik.

Kali ini animus mengajak pembaca untuk mengulik humaniora di kampus kita tercinta, ATMI. Tema ini sangat menarik untuk dibahas, kenapa?

Soft Skill

Dulu ketika saya pertama kali masuk ke ATMI (di tingkat 1), angkatan saya mendapat tugas untuk membaca dan membuat refleksi tentang satu buku judulnya Sukses dengan Soft Skills karangan Ichsan S. Putra dan Ariyanti Pratiwi. Buku ini menceritakan tentang kemampuan interaksi sosial mahasiswa ITB yang “sangat” rendah. Dalam buku ini dikatakan bahwa kecenderungan kelemahan mahasiswa ITB adalah, memiliki kemampuan akademis yang tinggi, tapi tidak mempunyai kemampuan interaksi sosial yang baik. Singkatnya, mereka sulit untuk berbicara di depan umum, sulit untuk bergaul, dan lain sebagainya. Interaksi sosial dalam buku ini juga meliputi hal-hal seperti komunikasi, manajemen waktu, kepemimpinan efektif, kerja tim, dan lain-lain. Kemampuan seperti itu dijuluki dengan nama soft skill. Lalu kenapa soft skill menjadi begitu penting untuk dibicarakan? Dalam buku ini pula, dibahas bahwa dalam dunia kerja ternyata untuk menjadi yang terbaik dan berkembang lebih cepat dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan akademis (dalam hal ini diwakili oleh IP). Buku ini memaparkan tabel yang menunjukkan bahwa ternyata IP mendapat urutan ke-17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas (tabel diambil dari hasil survey National Association of Colleges and Employers tahun 2002 dengan meminta pendapat 457 pengusaha Amerika). Dan 16 kualitas di atas IP termasuk dalam kualitas soft skill. Itulah mengapa soft skill begitu penting dibicarakan.

Dan ternyata instruktur-instruktur ATMI (khususnya instruktur tingkat 1) ternyata menangkap kelemahan yang sama dalam diri mahasiswa ATMI. Dalam kompetensi di bidang teknik mahasiswa ATMI dinilai cukup memuaskan, tapi untuk menjadi lebih berkembang dibutuhkan lebih dari itu. Mahasiswa ATMI perlu dan harus belajar meningkatkan soft skill yang mereka miliki.

Humaniora dan Soft Skill

Apa to humaniora itu? Arti singkatnya, yang di maksud humaniora itu adalah menjadikan manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior). Dalam sejarahnya, humaniora merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengangkat tiga hal (trivium) yakni Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara mutlak, logika bermaksud membentuk manusia terdidik yang dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan sedemikian rupa hingga dapat diterima karena dapat dimengerti dan masuk akal dan yang ketiga retorika bermaksud membentuk manusia terdidik mampu merasakan perasaan dan kebutuhan pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan kebutuhan itu. Dan hingga kini humaniora terangkum dalam ilmu-ilmu seperti sejarah, hokum, filsafat, sastra dan lain-lain.

Dan apa kaitannya antara humaniora dan soft skill? Humaniora secara luas tidak hanya dibatasi oleh disiplin-disiplin ilmu yang terangkum dalam pendidikan humaniora. Humaniora juga memiliki kemampuan untuk menjadikan manusia lebih manusiawi tanpa melalui proses pendidikan formal. Humaniora itu tentang manusia dengan dirinya sendiri dan orang lain, tentu dapat dibentuk dan dikembangkan dalam pribadi dan hubungan sosial. Humaniora itu membentuk manusia untuk semakin mengembangkan segala potensi dalam dirinya tanpa batasan apapun, termasuk mengembangkan diri secara emosioal dan sosial. Bahkan humaniora mampu menjadikan karakter seorang manusia. Seperti apakah contoh sikap humanior itu? Beberapa di antaranya adalah kemampuan berkomunikasi, kejujuran, integritas, mampu bekerja sama, memiliki dasar etika yang baik, kemampuan analitikal, berorganisasi, mampu memimpin, percaya diri, ramah, kreatif, mampu beradaptasi, dan lain-lain. Segala hal yang menunjukkan sikap manusia yang humanior tadi ternyata juga terangkum dalam soft skill. Soft skill dan humaniora membawa semangat yang sama, dan bahkan soft skill ini terlibat secara langsung dalam pendidikan humaniora secara luas.

Ada Apa dengan Humaniora di ATMI?

ATMI adalah akademi yang bergerak secara khusus di bidang teknik, para mahasiswa yang terlibat secara langsung dalam proses perkuliahan di ATMI telah memilih secra pribadi untuk ikut terlibat di dalam ATMI. Proses pendidikan yang berbasis produksi (bahkan sampai batasannya semakin kabur antara pendidikan dan produksi), menyebabkan proses penggalian potensi diri (selain di bidang teknik) menjadi kurang terealisasi. Bahkan, beberapa mahasiswa merasa diam di tempat dalam hal pengembangan diri. Hal ini tentu berkaitan langsung dengan “humaniora” karena humaniora itu sendiri menuntut seorang manusia untuk menjadi lebih manusia, mampu mengenal diri dan potensi diri dan pada akhirnya mampu mengembangkannya. Dan pada kenyataanya humaniora itu amat sangat basis dan penting dalam kelanjutan hidup selanjutnya seperti dijelaskan di atas.

Mengorek lebih dalam lagi, sebenarnya apakah fasilitas ATMI yang kurang memadai atau mahasiswanya sendiri yang kurang dalam pemberdayaan fasilitas itu sendiri dalam pengembangan humaniora? Humaniora dapat dikembangkan dari berbagai macam hal. Dapat dibangun dengan menciptakan budaya membaca-menulis, berlatih berorganisasi, berlatih kedisipilinan dan kejujuran, dan masih banyak hal lagi. Dan semua fasilitas itu ada di ATMI, dari organisasi, perpustakaan, lapangan olahraga, kegiatan-kegiatan mahasiswa, dan berbagai budaya yang dapat diambil saat menjalani praktek bengkel. Melihat kelemahan mahasiswa ATMI dalam bidang soft skill dapat berarti pula kelemahan dalam bidang humaniora, dan kenapa? Bukan rahasia lagi bila ke organisasi-an di ATMI mulai melemah, peminat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan non akademik semakin berkurang. Apa penyebabnya? Apa karena rutinitas dan kesibukan mahasiswa di bengkel dijadikan alasan utama? Kalau itu alasan utama, perlu diingat bahwa apa yang kita pelajari dan kita tekuni di bengkel selama ini tidak akan menopang lama eksistensi diri kita nantinya tanpa di dukung kemampuan lain (soft skill).

Saya hanya mengajak kita semua (mahasiswa ATMI) untuk menyadari pentingnya humaniora dalam kehidupan kita, jangan melulu berkutik pada kemampuan akademik tanpa menghiraukan hal-hal di luar itu. Toh kita belajar di sini untuk hidup; competentia-conscientia-compassio untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi; keunggulan intelektual, kecerdasan spiritual, integritas moral, kecerdasan emosional, dalam kasih dan solidaritas. Seperti itulah ATMI bervisi membentuk mahasiswanya. Mahasiswa, mari berkembang. ATMI, senantiasalah mendukung kami untuk berkembang.

Rosa Indra Wardana, Yustinus