30 May 2009
safari panggilan
24 May 2009
taman pintar
23 May 2009
21 May 2009
Brana Kamulyan—Sore Hari
Setiap hari selalu sama, yang membedakan hanya saat sore hari. Saat sore hari, manusia-manusia di sekelilingku melakukan hal yang berbeda setiap harinya. Padahal dari pagi sampai siang, mereka selalu melakukan hal yang sama setiap hari. Sore hari memang selalu berbeda. Langitnya pun selalu beragam, berbeda warna setiap harinya. Aku hidup dalam sebuah komunitas, dan komunitasku sangat mencintai sore hari.
Teman-teman memanggilku si Mul, namaku Brana Kamulyan. Hidup dalam sebuah komunitas itu senang-senang susah. Komunitasku itu berarti hidup bersama, tidur di tempat yang sama, melakukan rutinitas-rutinitas bersama. Komunitas hidup. Kami hidup dalam satu bangsal besar, dengan tempat tidur yang ditata berjejer-jejer seperti di barak pertempuran. Bangsal ini juga saksi pertempuran kami kok, bukan pertempuran bersenjata—tapi hanya pertempuran hati.
Suatu sore hari (ini sore hari yang benar-benar berbeda, baik langitnya, maupun kegiatannya), kami (aku dan komunitasku) pergi keluar sejenak. kami berjalan ke arah terminal
Sepulang dari terminal, kami berjalan kembali melewati jalur yang sama saat kami berangkat—kami melewati pabrik itu lagi. Kali ini sekitar pukul 4 seperempat sore. Kali ini suasana lebih ramai, sekitar ratusan pekerja parbrik berbondong-bondong keluar dari gerbang pabrik. hampir 90% dari mereka adalah pekerja perempuan. Suasana sungguh ramai dan penuh hiruk pikuk. Terlintas sebentar di benakku, kalau setiap hari seperti ini, berarti setiap hari di sore hari jalanan di sini selalu macet dan penuh hiruk pikuk pekerja pabrik. anda dapat bayangkan? Kejadian yang “ribut” ini terjadi setiap harinya—setiap sorenya—dan menjadi kebiasaan sehingga siapapun yang melewati jalur ini hanya terdiam menatap kebiasaan ini. Tapi memang, orang-orang dan kendaraan-kendaraan yang melewati pabrik ini tampak tidak terganggu dengan situasi ini (tampak tak terganggu=tampak sudah terbiasa). Karena semua orang seperti terbiasa, aku mulai ikut-ikut terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Kemudian tiba-tiba dari arah pabrik tersebut ada suara memanggilku;
“Mas Mul……Mas Mul…….!”
Tersentak dengan wajar aku langsung celingukan mencari sumber suara tersebut. Dari arah sebelah timur pintu gerbang pabrik tersebut ada seorang laki-laki dengan sepeda motor hitam dikendarainya tampak menatap aku dengan tangan melambai. Tanpa pikir panjang, aku datangi saja dia. Ternyata Mas Sugeng, orang yang jualan angkringan di depan rumah komunitasku.
“Weh, Mas Sugeng. Wonten napa ten mriki mas?”
“Nembe methuk nyonyah og Mas Mul, nyonyah
“Oalah, nggih pun. Aku tak ndhisik ya Mas, kae wes dienteni cah-cah.”
“Njih mas, monggo…”
Aku meninggalkan mas Sugeng ditengah keramaian arus sekitar pabrik. kali ini arus kendaraan benar-benar semakin parah. Kendaraan dari jalan raya tidak peduli dengan kendaraan para pekerja pabrik yang hendak menyeberang (bayangkan jumlahnya ratusan), mereka tetap memacu kendaraan mereka sekencang mungkin. Suasananya benar-benar kacau yang nyaman, sama-sama tidak peduli. Aku pun melenggang, sebenarnya dalam hati merasa janggal juga, tapi bisa berbuat apa?
Malam harinya, rumah komunitasku mendapat berita geger. Mas Sugeng, pedagang angkringan depan rumah kami ternyata mengalami kecelakaan saat sore hari tadi. Usut punya usut, kecelakaan terjadi dengan cara “nyaman menyakitkan”. Bayangkan jika anda ditabrak kendaraan berkecepatan tinggi, anda terjatuh, tapi tak seorang pun di sekitar anda peduli dengan anda, justru tersentak, terbelalak, memandangi, kemudian memaki penabrak, bahkan ada yang melirik sambil melanjutkan perjalanannya. Sore hari tadi yang benar-benar berbeda ternyata juga memberi hal yang begitu berbeda. Apa langit sore hari seperti ini menjadi berita alam?
Kami satu komunitas pun pergi ke rumah Mas Sugeng untuk menjenguknya.
Sore keesokan harinya, iseng-iseng aku melewati daerah sekitar pabrik itu. Kali ini aku menaiki sepeda motor, tidak berjalan kaki seperti kemarin. Aku melewati pabrik tersebut tepat pukul 4 seperempat sore. Suasananya tetap sama, hiruk pikuk, ramai, suasana kacau yang nyaman. Insiden kecelakaan kemarin sore ternyata tidak mengubah suasana apapun di sini. Bahkan juga tidak menggerakkan hati siapapun di sini—karena saya melihat mata orang-orang yang berlalu-lalang di sini, pandangan mereka tampak tertuju pada satu hal tanpa peduli sekitar.
Lucu ya, manusia yang dimana-mana membanggakan dirinya sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki otak untuk berpikir untuk semakin berkembang dan membentuk budaya yang paling unggul diantara makhluk apa pun di bumi—TERNYATA, tidak mampu belajar dari pengalaman-pengalaman kecil yang ada untuk membentuk habit yang lebih baik.
Mungkin, manusia-manusia jaman ini sudah masuk dalam “zona aman” mereka masing-masing untuk harus melihat keluar kembali.
krisis
17 May 2009
seperti seorang indra
14 May 2009
hard to say
10 May 2009
past
sms diterima
09 May 2009
rewel2
100%
03 May 2009
menenun
02 May 2009
redaksional animus--majalah ATMI
Menjadi Manusia Yang Manusiawi
Salam jurnalistik.
Kali ini animus mengajak pembaca untuk mengulik humaniora di kampus kita tercinta, ATMI. Tema ini sangat menarik untuk dibahas, kenapa?
Soft Skill
Dulu ketika saya pertama kali masuk ke ATMI (di tingkat 1), angkatan saya mendapat tugas untuk membaca dan membuat refleksi tentang satu buku judulnya Sukses dengan Soft Skills karangan Ichsan S. Putra dan Ariyanti Pratiwi. Buku ini menceritakan tentang kemampuan interaksi sosial mahasiswa ITB yang “sangat” rendah. Dalam buku ini dikatakan bahwa kecenderungan kelemahan mahasiswa ITB adalah, memiliki kemampuan akademis yang tinggi, tapi tidak mempunyai kemampuan interaksi sosial yang baik. Singkatnya, mereka sulit untuk berbicara di depan umum, sulit untuk bergaul, dan lain sebagainya. Interaksi sosial dalam buku ini juga meliputi hal-hal seperti komunikasi, manajemen waktu, kepemimpinan efektif, kerja tim, dan lain-lain. Kemampuan seperti itu dijuluki dengan nama soft skill. Lalu kenapa soft skill menjadi begitu penting untuk dibicarakan? Dalam buku ini pula, dibahas bahwa dalam dunia kerja ternyata untuk menjadi yang terbaik dan berkembang lebih cepat dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan akademis (dalam hal ini diwakili oleh IP). Buku ini memaparkan tabel yang menunjukkan bahwa ternyata IP mendapat urutan ke-17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas (tabel diambil dari hasil survey National Association of Colleges and Employers tahun 2002 dengan meminta pendapat 457 pengusaha Amerika). Dan 16 kualitas di atas IP termasuk dalam kualitas soft skill. Itulah mengapa soft skill begitu penting dibicarakan.
Dan ternyata instruktur-instruktur ATMI (khususnya instruktur tingkat 1) ternyata menangkap kelemahan yang sama dalam diri mahasiswa ATMI. Dalam kompetensi di bidang teknik mahasiswa ATMI dinilai cukup memuaskan, tapi untuk menjadi lebih berkembang dibutuhkan lebih dari itu. Mahasiswa ATMI perlu dan harus belajar meningkatkan soft skill yang mereka miliki.
Humaniora dan Soft Skill
Apa to humaniora itu? Arti singkatnya, yang di maksud humaniora itu adalah menjadikan manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior). Dalam sejarahnya, humaniora merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengangkat tiga hal (trivium) yakni Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara mutlak, logika bermaksud membentuk manusia terdidik yang dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan sedemikian rupa hingga dapat diterima karena dapat dimengerti dan masuk akal dan yang ketiga retorika bermaksud membentuk manusia terdidik mampu merasakan perasaan dan kebutuhan pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan kebutuhan itu. Dan hingga kini humaniora terangkum dalam ilmu-ilmu seperti sejarah, hokum, filsafat, sastra dan lain-lain.
Dan apa kaitannya antara humaniora dan soft skill? Humaniora secara luas tidak hanya dibatasi oleh disiplin-disiplin ilmu yang terangkum dalam pendidikan humaniora. Humaniora juga memiliki kemampuan untuk menjadikan manusia lebih manusiawi tanpa melalui proses pendidikan formal. Humaniora itu tentang manusia dengan dirinya sendiri dan orang lain, tentu dapat dibentuk dan dikembangkan dalam pribadi dan hubungan sosial. Humaniora itu membentuk manusia untuk semakin mengembangkan segala potensi dalam dirinya tanpa batasan apapun, termasuk mengembangkan diri secara emosioal dan sosial. Bahkan humaniora mampu menjadikan karakter seorang manusia. Seperti apakah contoh sikap humanior itu? Beberapa di antaranya adalah kemampuan berkomunikasi, kejujuran, integritas, mampu bekerja sama, memiliki dasar etika yang baik, kemampuan analitikal, berorganisasi, mampu memimpin, percaya diri, ramah, kreatif, mampu beradaptasi, dan lain-lain. Segala hal yang menunjukkan sikap manusia yang humanior tadi ternyata juga terangkum dalam soft skill. Soft skill dan humaniora membawa semangat yang sama, dan bahkan soft skill ini terlibat secara langsung dalam pendidikan humaniora secara luas.
ATMI adalah akademi yang bergerak secara khusus di bidang teknik, para mahasiswa yang terlibat secara langsung dalam proses perkuliahan di ATMI telah memilih secra pribadi untuk ikut terlibat di dalam ATMI. Proses pendidikan yang berbasis produksi (bahkan sampai batasannya semakin kabur antara pendidikan dan produksi), menyebabkan proses penggalian potensi diri (selain di bidang teknik) menjadi kurang terealisasi. Bahkan, beberapa mahasiswa merasa diam di tempat dalam hal pengembangan diri. Hal ini tentu berkaitan langsung dengan “humaniora” karena humaniora itu sendiri menuntut seorang manusia untuk menjadi lebih manusia, mampu mengenal diri dan potensi diri dan pada akhirnya mampu mengembangkannya. Dan pada kenyataanya humaniora itu amat sangat basis dan penting dalam kelanjutan hidup selanjutnya seperti dijelaskan di atas.
Mengorek lebih dalam lagi, sebenarnya apakah fasilitas ATMI yang kurang memadai atau mahasiswanya sendiri yang kurang dalam pemberdayaan fasilitas itu sendiri dalam pengembangan humaniora? Humaniora dapat dikembangkan dari berbagai macam hal. Dapat dibangun dengan menciptakan budaya membaca-menulis, berlatih berorganisasi, berlatih kedisipilinan dan kejujuran, dan masih banyak hal lagi. Dan semua fasilitas itu ada di ATMI, dari organisasi, perpustakaan, lapangan olahraga, kegiatan-kegiatan mahasiswa, dan berbagai budaya yang dapat diambil saat menjalani praktek bengkel. Melihat kelemahan mahasiswa ATMI dalam bidang soft skill dapat berarti pula kelemahan dalam bidang humaniora, dan kenapa? Bukan rahasia lagi bila ke organisasi-an di ATMI mulai melemah, peminat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan non akademik semakin berkurang. Apa penyebabnya? Apa karena rutinitas dan kesibukan mahasiswa di bengkel dijadikan alasan utama? Kalau itu alasan utama, perlu diingat bahwa apa yang kita pelajari dan kita tekuni di bengkel selama ini tidak akan menopang lama eksistensi diri kita nantinya tanpa di dukung kemampuan lain (soft skill).
Saya hanya mengajak kita semua (mahasiswa ATMI) untuk menyadari pentingnya humaniora dalam kehidupan kita, jangan melulu berkutik pada kemampuan akademik tanpa menghiraukan hal-hal di luar itu. Toh kita belajar di sini untuk hidup; competentia-conscientia-compassio untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi; keunggulan intelektual, kecerdasan spiritual, integritas moral, kecerdasan emosional, dalam kasih dan solidaritas. Seperti itulah ATMI bervisi membentuk mahasiswanya. Mahasiswa, mari berkembang. ATMI, senantiasalah mendukung kami untuk berkembang.
Rosa Indra Wardana, Yustinus


