29 August 2009

kota 1001 goa!


Sebenarnya saya ke Pacitan sudah tanggal 15-16 Agustus kemaren, tapi baru sempet bikin review-nya sekarang. Saya ke Pacitan bersama teman-teman, waktu itu ber-12 orang (11 orang teman ATMI, 1 orang saudara teman saya yang berdomisili di pacitan). Waktu itu kami pergi ke Pacitan dengan membawa harapan dan syukur atas berakhirnya perkuliahan tingkat 2 di ATMI. Betapa besar rasa ingin menumpahkan segala kelelahan yang ada. Kalau seperti kata Shaggy dog, setelah bekerja keras bagaikan kuda! pergi jauh ke luar kota, lewati desa-desa! hahahaha....
Ini adalah kali ke dua saya datang ke Pacitan, yang pertama ketika merayakan lulusan SMA bersama teman-teman dari SMA PL YOSEP Solo. Rupanya Pacitan menjadi tempat favorit bagi saya untuk merayakan banyak hal.
Kota Pacitan, Nama Pacitan bersalah dari kata Pace (buah pace) yang disebut pertama oleh Raja Mangkubumi yang disembuhkan dari air buah pace saat sakit lumpuh.



(gambar dari http://www.pacitanweb.com/images/lightbox_foto/pantai-srau.jpg)

Ini adalah pantai yang kami datangi pertama. Tepat pukul 6 sore kami sampai di sana, mendirikan tenda, menyiapkan segala peralatan untuk nge-camp semalam di sana. Yang paling utama adalah menyiapkan kayu bakar untuk api unggun. Api unggun benar-benar tepat untuk dijadikan teman semalam sambil menikmati malam dan bernyanyi bersama. Pantai ini benar-benar tepat untuk dijadikan tempat menginap dipinggir lautan Hindia. Kenapa? 1. tempatnya sepi 2. tempatnya bagus 3. tempatnya jossss...hahahaha. Tapi ada satu kendala, di sini tidak ditemukan tempat untuk mandi, buang air kecil maupun buang air besar. Jadi benar-benar hidup semalam bersandar pada alam!
Malam di sini kami habiskan dengan nyanyian-nyanyian dan makanan-makanan tiada henti. Sungguh menarik!



(gambar dari http://www.pacitanweb.com/images/lightbox_foto/pantai-teleng-ria.jpg)

Pantai Teleng Ria adalah tempat kedua yang kami kunjungi pada pagi hari setelah semalam menginap di Pantai Srau. Kenapa kami memilih tempat ini? Karena pengunjungnya banyak, tempatnya luas sekali, yang jelas kami dapat beramai-ramai menikmati pantai bersama pengunjung yang lainnya. Sayangnya, di tempat ini sedang ada even, jadi ada tarif masuk sebesar 5rb rupiah (tapi, kami ini pintar, kami masuk pantai melalui pelabuhan, kemudian susur pantai, sehingga GRATIS!hahahahaa). Pantai ini rupanya menjadi objek wisata pantai paling digemari di Pacitan, terlihat dengan banyaknya pengunjung terutama pengunjung yang "mbojo" di sana.

3. Persahabatan


(indra, kodok, eph, pelem, kinclonk, oka, ceper, varo, said, memet, opet, hendrik--seng moto)

Hal terakhir ini adalah hal yang paling menarik dari perjalanan kami ke Pacitan. Eksplorasi dan penggalian lebih dalam lagi tentang persahabatan yang kami bangun. Di mana kami bisa saling berbagi dan nguda rasa, membagikan apa yang dimiliki, menerima dengan tangan terbuka apa yang diberi. Tidak perlu menjadi kepompong untuk menjalin persahabatan secantik kupu-kupu. Tidak perlu mengalami metamorfosa untuk menjadi keindahan yang tiada habis. Yang ada di sini adalah memberikan ruang sedikit di dalam hati kita untuk singgah orang-orang di sekitar kita, yang kita sebut dengan sahabat. Gema persahabatan kami dengar dari lagu-lagu yang kami nyanyikan, dari gelak tawa yang kami ciptakan bersama, dari setiap makanan yang kami nikmati bersama. Pacitan itu menjadi saksi persahabatan yang kami jalin. Meskipun, kesempurnaan hanya milik Allah, tapi 1% kesempurnaan-Nya dalam persahabatan kami saja sudah cukup membuat kami mengerti bahwa kami tidak hidup sendiri.

hidup joskavunka.

22 August 2009

21-23

Menjadi 21 di tanggal 23. Seperti apa hayo rasanya? Yang pertama tetaplah, pasti menunggu sesuatu yang paling spesial dari yang paling spesial juga--tapi yang ditunggu lama banget nih.hahaha

gambar di samping adalah roti tart (roti tart kok cuma kayak gini ya?hahha) yang saya inginkan, tapi sekali lagi--hanya saya inginkan, dan tidak terwujud!hahah. Bahagianya hidup dalam pengharapan dan keinginan.

hidup selama 21 tahun itu menyenangkan, berat juga. Seharusnya menjadi semakin dewasa, semakin mengerti sisi apa yang harus diperjuangkan dalam hidup ini. Semakin mengerti sikap-sikap mana yang harus diikuti menuju kedewasaan. Tapi kadang salahnya, malah menjadi semakin banyak membutuhkan, semakin merasa banyak menginginkan banyak hal, semakin merepotkan orang lain.
Hidup selama 21 tahun itu untuk saya seperti makan permen nano-nano mungkin ya, rasanya bermacam-macam. Ketika mulai berkecimpung secara langsung dalam hidup, saat itu juga saya langsung merasakan berbagai perasaan yang bercampur-campur. Tapi seperti makan permen juga, hal yang ingin dituju sebenernya kelegaan, begitu pula hidup. untuk mencapai titik kelegaan kadang harus melewati berbagai macam rasa itu pula. Tapi satu hal yang boleh menjadi pegangan, bahwa hidup yang sedang saya atau anda rasakan saat ini, entah itu senang-sedih-campur aduk apapun itu, itu hanyalah jalan menuju kelegaan yang nantinya akan anda rasakan. Asal kita tetap teguh pada yang namanya pengharapan itu tadi.
Menjadi manusia yang penuh HARAPAN di umur ke-21 ini! Dan jangan sampai, hanya terdiam di harapan saja!

Syukuri saja perayaan hari lahirmu di umur berapapun, buat saya; pada umur 21 tahun ini. Karena kita gak pernah tahu, masih diijinkan atau tidak untuk kita merayakannya lagi tahun depan. Jadi, hari ini kita lakukan yang terbaik.

mengulang-ulang tahun

09 August 2009

Diantara pilihan-pilihan!


Setiap orang diberi pilihan dalam hidup. Jadi ingat salah satu teman SMA saya di magelang, dia suka sekali dengan kata-kata "memilih" ini. Dia selalu mengatakan dan menyatakan di depan teman-teman : "pilihan-pilihan kecil membawa ke pilihan-pilihan besar dalam hidupmu!". Dan entah kenapa, kata-kata ini meresap sungguh di dalam benak saya. Dan lama kelamaan menjadi doktrin dalam hidup saya. Doktrinnya menjadikan saya berpikir "hati-hati milih apapun, karena pilihanmu hari ini akan berpengaruh di pilihanmu besok2". Hahaha.. menjadi sedikit lucu, bagaimana tidak? Karena setiap apa yang saya lakukan, saya pikir hingga jauh sekali ke depan. Padahal apa yang ada di depan saya sendiri pun belum sepenuhya menampilkan kejelasan.
Tapi menarik, berpikir tentang memilih. Setiap hari kan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tapi, kadang kita tidak menyadari kalau kita diberi pilihan-pilihan, kadang kita menyadari saat kita merasakan ada yang salah pada pilihan kita. Contoh: kita selalu diberi pilihan, akan bangun pagi atau bangun agak siang. Jika kita memilih bangun siang, lalu kita berangkat ke kampus atau tempat kerja, tiba-tiba di jalan ban motor kita kempes....anda akan merasa menyesal tidak memilih untuk bangun lebih pagi tadi. Betapa hidup kita sangat terikat pilihan-pilihan kecil.
Lagi yang menarik, bahwa ternyata ada beberapa orang di sekitar kita yang memperhatikan pilihan-pilihan kecil hidup kita. Hingga akhirnya orang di sekitar kita tersebut tiba-tiba nge-judge kita sebagai sosok profil manusia tertentu, hanya dengan melihat pilihan kecil harian kita.

Setiap harinya, kita hampir dihadapkan pada hampir 75 pilihan. Dari mulai bangun pagi, hingga kita bangun pagi kembali. Dan pilihan itu membawa kita ke suatu bentuk diri kita, ke suatu attitude diri kita. Bagaimana kita bertindak, berbicara, itu semua ada dalam pilihan kecil kita sehari-hari. Dan tanpa kita sadari, pilihan-pilihan itu membentuk watak dan paradigma kita terhadap dunia. Jadi nantinya, kita melihat dunia dengan kaca mata yang kita bentuk dari pilihan-pilihan kecil kita tadi. Akan dibawa kemana hidup kitapun, juga akan berpijak dari pilihan kita sehari-hari.
Kalo kita sedang terdiam, menatap dua pilihan yang harus kita pilih saat itu juga, sebenarnya kita sudah tau mana yang kita pilih sejak pertama kita melihat pilihan itu. Pilihan kecil di masa lalu kita membentuk paradigma untuk memilih satu pilihan, dan logika atau hati menimbang-nimbang kembali. Tapi tetap saja, yang sudah terbiasa, itulah yang akan kita jalani.

so, hati-hati menentukan PRIORITAS dan PILIHAN mu, meski itu dalam hal kecil sekali pun. Kalo bisa, tentukan lebih awal kemana tujuan hidupmu, supaya pilihan kecilmu searah dengan tujuan hidupmu, bukan sebaliknya tujuan hidupmu terarahkan karena pilihan kecilmu. that's the point



-va dove ti porta il quore-



05 August 2009

alamat rumah ku


indrahuazu.com

memiliki alamat yang baru itu bagi saya seperti memiliki rumah baru. Pernah mengalami pindah rumah dan menempati rumah baru? mending kalau rumah yang kita tempati adalah rumah dan lahan bersih dan benar-benar baru (belum ada pemakainya sebelumnya) jadi kita tidak perlu kuatir dengan histori rumah baru kita. Tapi kalau rumah itu sudah ada yang memakai sebelumnya, menyimpan histori dan kenangan yang dalam pada masa-masa sebelum kedatangan kita, BISA JADI sang rumah akan membanding-bandingkan kita dengan penghuni sebelumnya. hahaha. khayalan tingkat tingggi.

seberapa penting rumah untuk seorang indra? pernah dengar 5 falsafah jawa? yakni kukilo (burung), wanito (wanita), curigo (waspada), turonggo (kuda), wismo (rumah). Falsafah ini digunakan orang jawa sebagai pegangan dalam menjalani hidup. Yang kelima adalah wismo--rumah. Kemanapun kita pergi, kapanpun, dan bagaimanapun, kita akan selalu kembali ke rumah. hal ini mengartikan bahwa kita ini hanya akan melakukan perjalanan sementara hingga pada akhirnya kembali lagi ke rumah, dan dalam skala besar dapat diartikan bahwa peziarahan hidup kita hanyalah sementara sebelum kita kembali ke rumah abadi bersama DIA.

Rumah ini menjadi lebih dari sekedar payung di saat hujan atau panas terik matahari menyengat. rumah ini menjadi pelukan ibu disaat kita kembali dari perjalanaan jauh, tempat untuk re-charge seluruh tenaga dan pikiran kita. Tempat untuk memupuk kembali motivasi dan semangat hidup. Kalau kita menjadi tidak pernah pulang rumah, seharusnya kita melakukan pancarian ulang jari diri, DIMANA sebenarnya rumahku?


------di dekat lahan seperti inilah rumahku ini dibangun, sejuk ya indrahuazu.com, semoga memberi kedamaian di manapun untuk siapapun kapanpun.

rumahku ini, tempatku mengadu..
dimana rumahmu?