

Dalam ilmu psikologi Self Defence Mechanism adalah proses mental dari pembohongan-diri untuk mengurangi pikiran yang mencemaskan, kenangan buruk atau keadaan yang mengancam ego seseorang.
Perasaan khawatir adalah insting normal terhadap adanya ancaman. Adrenalin yang meningkat, perasaan selalu siap siaga dan jantung yang berdebar sebenarnya insting untuk mempertahankan diri untuk survive. Namun kekhawatiran yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh lelah, meningkat menjadi cemas dan dapat menimbulkan stress. Dan stress adalah pemicu penyakit psikosomatis.
Maka Self Defense Mechanism adalah sistem penipuan pikiran yang berfungsi meredakan kekhawatiran dan stress dengan cara pengalihan. Beberapa diantaranya yang popular antara lain :
Tingkat Neurotic - Multiple Personality Disorder
Lolita, seorang Ibu merasa sangat lelah menghadapi 3 orang anak lelaki yang sangat nakal. Suami selalu pulang malam dan krisis yang menghadang sedikit mengganggu perekonomian rumah tangga. Saat ke psikolog, dalam kondisi hipnotis Ia dipersilakan mengatakan apapun. Tiba-tiba Ia mengaku menjadi seorang single bernama Tika, tinggal di apartemen dan mengaku pernah mengenal seseorang bernama Lolita. Ia mengatakan kasihan dengan hidup Lolita dan menghabiskan sesi hipnotis menjelek-jelekkan suami Lolita.
Psikolog mengkhawatirkan bahwa karakter Tika akan menguat mengalahkan Lolita, dan dengan tekanan Tika akan mengambil alih tubuh Surti untuk melarikan diri ke suatu kota, berganti nama menjadi Tika dan melupakan Lolita di pojok gelap psikologi sebagai sebuah kenangan buruk yang harus segera dihapus. Self Defence Mechanism secara ekstrem bekerja melindungi tubuh dari trauma sebagai Lolita dan mengembangkan impian terpendam sebagai Tika yang terkekang norma untuk mengambil alih tubuh Lolita.
Tingkat Normal - Represi, Rasionalisasi, Displacement, Projection
1. Represi merupakan DM (Defence Mechanism) yang paling sering dilakukan. Pikiran melakukan blok terhadap kenangan buruk, mengalihkannya pada hal-hal yang menyenangkan. Tanpa represi seseorang yang putus cinta akan sakit hati berbulan-bulan. Seseorang yang fungsi represinya terganggu seringkali membutuhkan obat untuk represi. Istilah ini disebut dengan Supression (pemaksaan represi menggunakan media bantu)
2. Projection, yaitu mengarahkan emosi kepada orang lain. Seringkali saat kita merasa jengkel atau marah ketika menjumpai orang lain yang sedang stress dalam pekerjaannya yang tidak mengacuhkan kita, kemudian kita pun langsung memberikan tuduhan bahwa orang itu marah terhadap kita karena saat diajak berbicara tidak merespon.
3. Rasionalisasi, yaitu melakukan alasan atau pembenaran terhadap kegagalan atau suatu hal yang tidak dicapai untuk mencegah perasaan kecewa berkepanjangan. Seseorang yang putus cinta dengan pasangan yang menurutnya sempurna seringkali menjalin hubungan dengan orang yang secara kualitas jauh dibawah mantannya untuk menghindari sakit hati. Atau contoh lain yang sering kita alami misalnya : ketika kita melihat ada anak muda jadi pengusaha kaya, kita kerap menyimpulkan langsung bahwa dia pasti anak pengusaha. Ketika ada pejabat kaya, tuduhan langsung adalah pasti korupsi. Sebuah pembenaran bahwa tidak menjadi pengusaha muda atau pejabat kaya adalah hanya karena bukan anak pengusaha atau tidak korupsi.
4. Displacement. Pernahkah Anda melihat blog yang berisi tulisan-tulisan mengenai sumpah serapah, blog berisi puisi cinta mati, atau perahkah Anda mendengar ada seseorang yang pergi meninggalkan pekerjaan untuk berkelana keliling dunia? Itu adalah sebuah Displacement, memindahkan energi amarah dan cemas ke dalam aktivitas lain sebagai penyaluran.
Self Defence Mechanism adalah sebuah disiplin dalam ilmu psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Bukan hanya psikolog, tapi Anda pun bisa mempelajari ini untuk memahami perilaku orang-orang di sekitar anda dan mencoba berempati saat mereka terpaksa melakukan ini. Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung untuk menghilangkan atau mengurangi tingkat ketegangan tersebut dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperlunya. Dalam beberapa hal, karena berbagai alasan kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi, akibatnya ia harus belajar untuk mengganti objek yang diinginkannya tersebut agar ketegangan tersebut dapat menurun atau hilang dalam dirinya (Defense Mechanism)

Life is beautifull!
Hidup itu indah!
Yang tidak setuju dengan pernyataan itu, ada atau tidak?
Hari ini saya mendapat sedikit pengalaman, tapi dengan effect dan impact yang amat besar. tentu saja, pengalaman apa lagi sih yang mampu memberikan impact sebesar ini kalau tidak pengalaman cinta. Memang hebat kok yang namanya pengalaman cinta itu, selalu mampu memberikan efek yang besar dalam hidup, bahkan kadang bisa menjadi batu loncatan atau menjadi dinding untuk perubahan yang lebih besar. Tapi untuk aku sekarang, pengalaman cinta tidak menjadi dua hal tersebut melainkan menjadi kayu untuk sebuah pintu. Aneh, malah menjadi sebuah pintu.
Sebenarnya, hari ini saya lagi disakiti. Bisa dibilang, mengalami hari yang terberat dari masa masa bercinta. Tapi setelah saya terdiam dan lama merenunginya, saya jadi bertanya, untuk apa?? Apa yang saya dapatkan, apa yang saya lepaskan, apa yang saya berikan, itu semua sudah pernah memberi saya kebahagiaan, kesedihan, keresahan, kegembiraan dan lain-lain. Dan kalau perasaan itu terulang lagi, itu hanya akan terulang, dan tersembuhkan juga.
TAPI
bukan itu yang menjadi titik pemikiran utama. Perasaan sedih bisa saya atasi, tapi effect terbesarnya berupa kehilangan orang yang dicintai. Nah, ini yang harus disikapi.Saya gak peduli dengan apa yang saya rasakan, tapi sekarang saya sedang peduli dengan yang saya miliki dan saya cintai.
Keinginan-Keinginan, harapan-harapan bahwa hidup itu indah, menjadikan visi dan paradigma yang membentuk orang dari pondasi kebahagiaan dan keindahan. Pondasi seindah ini tentu saja tidak hanya akan terkubur di bawah tanah, tetapi mampu dan benar-benar layak menopang bangunan yang benar-benar indah.
Hari ini aku diberi pintu, untuk kembali masuk ke dalamnya.
yang aku tawarkan itu setetes kebahagiaan meski harus menenggak segelas kepahitan













(7) Comments







