25 January 2010

Kami PRAMEKS! Bukan BONEK!!

"Kami Prameks, bukan bonek!!"
Teriakan itu terdengar sangat keras dari mulut seorang wanita setengah baya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Wanita ini berteriak-teriak ke arah keluar jendela kereta api Prameks. Ia berteriak keras sambil melindungi kepalanya dengan tangan sebagai tindakan preventif kalau-kalau ada batu atau benda apapun yang melayang menembus kaca jendela kereta api ini.

Sabtu-minggu ini saya sedang berada di Jogja untuk suatu keperluan. Minggu siang, ketika saya akan pulang ke Solo dengan naik KA PRAMEKS, teman saya mengirim sms yang inti isinya mengatakan supaya saya pulang ke Solo naik kereta nanti malam saja, karena siang ini bertepatan dengan Bonek (suporter Persebaya) yang akan pulang ke Surabaya melewati kota Solo dan Jogja. Tapi karena sudah terlanjur di stasiun Lempuyangan, sudah membeli karcis, saya tetap pulang siang itu.
Perjalanan kereta Prameks yang saya tumpangi lancar-lancar saja, bahkan saya sempat tertidur kelelahan. Tapi ketenangan itu lenyap saat kereta akan memasuki stasiun purwosari, satu batu melesat masuk di gerbong saya. Kaca jendela pecah, batu nyaris mengenai seorang bapak. Kereta tetap melaju, serpihan kaca lalu dibersihkan petugas Prameks. Di stasiun Purwosari dan stasiun Balapan banyak penumpang dari Jogja yang turun, dan penumpang yang akan menuju ke Jogja mulai naik memenuhi kereta. Termasuk gerbong saya, juga mulai penuh kembali. Saya berencana turun di stasiun Jebres.
Kereta melenggang pelan, menuju Jebres.
Sebelum masuk stasiun Jebres, massa dipinggir-pinggir rel sudah sangat penuh. Kerumunan massa ini membawa batu, tongkat kayu. Mereka bersiap untuk "menjemput" kereta Pasundan yang ditumpangi Bonek. Kereta saya melaju sangat pelan, sampai akhirnya ada suara lemparan batu mengenai atap kereta saya, lalu kereta berhenti seketika. Batu kedua datang, mengenai atap kereta lagi. Suasana pun menjadi sangat mencekam. Massa di luar kereta berteriak-teriak. Di dalam gerbong saya, ada ibu-ibu yang berteriak, lalu ada bayi yang menangis melengking. Sungguh, suasana sangat mencekam. Saya berdiri, memakai helm, kemudian melihat keadaan diluar kereta melalui jendela. Kereta berhenti sekitar 1 menit. Setelah massa mendapat penjelasan bahwa kereta ini tidak membawa penumpang Bonek, kereta dapat melenggang kembali. Massa di sekitar rel bersorak sambil mengacungkan tanda peace di tangan mereka. "damai, bolo dewe..."
Suasana kembali tenang, kereta sampai di Jebres, saya turun dari kereta.


..kalau mata dibalas mata, butalah dunia..

Seharusnya kita yang mengecam, mampu menunjukkan bahwa kita tidak bertindak seperti mereka.

17 January 2010

perkenalkan, ini pacar saya!

Selamat hari Minggu sebelumnya.
Tahun ini adalah tahun ketiga saya berpacaran, tepatnya nanti tanggal 23 Januari. 3 tahun berpacaran, bukan waktu yang singkat dan belum waktu yang lama. Tapi sejauh ini kami selalu menikmati. Sama-sama mensyukuri apa yang telah kami beri dan apa yang telah kami dapatkan. Menjalin hubungan itu memang hal yang amat sulit saya akui. Menciptakan suatu relasi mungkin mudah, tapi kemudian menjaganya dan terus merawat hubungan itu lah yang sulit. Jika di saat anda "jadian" mungkin anda akan merasakan bahagia sekali, tapi itu hanya sepersepuluh dari kebahagiaan yang anda rasakan ketika anda merasakan kesetiaan dan komitmen setelah bertahun-tahun. Kenapa sampai sebahagia itu? Rasakan saja, ketika anda mampu melawan kata bosan, jenuh, dan  sebagainya. Setan-setan seperti itu yang paling digemari manusia. Tapi percaya, berpaling dari setan-setan itu menciptakan kebahagiaan berkali-kali lipat.

15 January 2010

naik patung kuda!


Malam ini pertama kalinya saya nganggur dalam satu minggu ini. Setiap malam selama selalu berkumpul dengan teman-teman untuk mengerjakan proposal Tugas Akhir. Malam ini saya isi dengan online, blogwalking, chat dan hingga akhirnya saya merasa bosan. Lalu saya buka-buka file komputer saya. Saya buka file foto-foto yang totalnya berkapasitas 65 GB, saya lihat satu per satu, mengenang kisah-kisah yang sempat terekam di foto-foto saya. Sungguh menarik (setidaknya bagi saya), melihat foto dari jaman SMP (jaman SD saya belum punya kamera digital..hehe) sampai sekarang kuliah. Geli, melihat perubahan fisik saya dari kecil sampai sekarang. Dulu kurus sekarang gendut, dulu pendek sekarang tinggi, dulu item sekarang tetep item, dulu ganteng sekarang cakep..hahaha... Mengenang itu menyenangkan

Lalu saya berhenti di satu foto yang saat saya mengingatnya saya menjadi tertawa sendiri. Ini fotonya:



Foto ini diambil di patung kuda yang sedang menarik kereta kuda di daerah Manahan, tepatnya di pertigaan Manahan (yang ada Layar besar) ke arah utara. Waktu itu saya masih semester 1. Yang membuat lucu adalah, patung tersebut terletak di dalam taman, dan di sekitar taman dipagari dan diberi papan bertuliskan "dilarang masuk"--kelihatannya (saya agak lupa). Intinya, taman tersebut tidak boleh diinjak kaki oleh siapapun. Dan justru berangkat dari larangan tersebut saya dan teman-teman semakin berniat untuk foto-foto di tempat itu. Sungguh anak muda yang sedang berapi-api saat itu. Waktu pengambilan gambar pun juga berlangsung sangat cepat saat itu. Kami loncat pagar, lalu naik ke patung kuda yang ternyata tinggi sekali (diluar dugaan saya) dan ada teman saya yang sudah siap dengan HP nya untuk memotret kami. FUN! itu yang tercipta di perasaan saya setelah melakukan hal itu.

Beruntung, saya masih diberi kesempatan untuk mengenang kejadian menarik itu.





13 January 2010

cinta tak bertuan

Beberapa hari ini memandang di sekitar, melihat dan mengamati semua yang ada di antara saya dan dunia. Dunia saya itu kecil, cuma di sekitar diri saya dan teman-teman saya setiap harinya.

Suatu hari saya mendengar teman saya bernyanyi keras sekali. Dia menyanyikan lagunya Seventeen "Cinta Tak Bertuan". Lalu aku dekati, dia bernyanyi sambil mendengarkan mp3 di komputer. Aku pandangi sejenak, kemudian aku tersenyum dan dia ikut tersenyum. Lalu aku tanya "Serius amat nyanyinya..." . Dia jawab " Gue banget nih lagunya...hahaha"

Lama setelah waktu itu, saya sedang sendirian di kontrakan, saya nyalakan komputer. Saya buka aplikasi winamp, saya klik begitu saja lagu yang ada di list. Dan kemudian terdengar lagu "Cinta Tak Bertuan" ini. Ternyata lagu yang menarik. 

kemana cinta ini
cinta tak bertuan
selalu menghantui
di setiap hidupku

tak kuat raga ini
berdiri menanti
hari demi hari
mencari indahnya cinta


Bayangkan jika yang mendengarkan lagu ini adalah orang yang sedang dilanda pilu bertahun-tahun. Seseorang yang sudah setia menanti cinta untuk seseorang tetapi tidak pernah mendapat titik terang barang sedetik pun. Lagu ini benar-benar menjadi soundtrack hebat untuk kisah seperti itu.

Tapi apa benar, "cinta tak bertuan" itu memang ada? Jika yang dimaksudkan "tak bertuan" adalah cinta yang tidak mendapat timbal balik, maka arti cinta menjadi merosot jauh. Sejak kapan cinta harus saling timbal balik? Sejak kapan cinta harus bertautan antara dua insan? Jangan-jangan sesungguhnya memang cinta itu tak bertuan.... Cinta itu sungguh mandiri dalam kebebasannya tanpa terikat tuan manapun. Apa iya?..........tiap orang punya persepsi sendiri untuk menggambarkan perasaannya..



-bisa mencintai itu saja sudah lebih dari cukup daripada sekedar memiliki-