14 February 2010

pakLentine

Seputih cinta
Sehitam kehidupan

Hitam putih cerita ini sedikit mampu menceritakan
Hitam putih cerita ini menjadi saksi keberadaan

Seputih cinta
Sehitam kehidupan

Hitam putih cerita ini merujuk satu harapan
Hitam putih cerita ini mewujudkan dua impian

Seputih cinta
Sehitam kehidupan

Cintaku padamu dirangkai di atas kanvas putih bercorak hitam


cinta suci

aku tidak merebutnya, tapi hanya menjaganya ketika dia yang empunya tak mampu menjaganya

Cinta itu ragu ya, kadang memberi kepastian tapi kadang memberi kebimbangan. Manusia-manusia normal seperti saya ini mana mungkin mengerti sedalam itu. Cinta itu rindu ya, memberi kehangatan-kehangatan yang sulit kita dapatkan setiap harinya, dan kemudian menjadi candu rindu.

Pernah menjadi pihak ketiga dalam cinta? Menjadi orang yang masuk ke dalam suatu hubungan seseorang? Saya juga belum pernah, tapi saya pernah mendapat cerita dari orang yang pernah mengalaminya. Menjadi pihak ketiga itu seperti menjadi pahlawan yang penuh dosa. Berjuang demi cinta untuk membunuh cinta. Dilematis. Kalau tokoh Pat Kai dalam Kera Sakti selalu mengatakan beginilah cinta, deritanya tiada berakhir. Tapi kalau diruntut kembali menurut saya tidak seperti itu. Bagi saya pribadi cinta itu begitu indah sebelum akhirnya cinta mengenal kata "memiliki". Yang menyakitkan atau menjadikan sakit hati itu adalah ketika cinta diikuti rasa ingin memiliki, rasa egois, hawa nafsu, dan lain-lain. Jika perasaan cinta yang kita rasakan dapat disadari menjadi cinta yang murni tanpa embel-embel yang lain, menurut saya cinta akan dirasakan begitu indah. 

Menjadi pihak ketiga, menjadi pihak yang bisa menjadi paling bahagia tapi juga bisa menjadi pihak yang paling sengsara. Orang yang menjadi pihak ketiga kadang membela diri dengan berkata "saya hanya ingin mencoba memperjuangkan cinta". Tapi perlu disadari juga bahwa hubungan yang sedang ia masuki sebenarnya juga sedang memperjuangkan cinta. Jadi yang menjadi pertanyaan adalah cinta yang mana yang diperjuangkan? Terjawab sebenarnya, cinta pribadi. Ada juga alasan seperti ini ; "Aku tidak merebutnya, aku hanya menjaga ketika yang empunya tidak mampu menjaganya". Itu berarti sang pihak ketiga masuk pada waktu yang kurang tepat. 

Bagaimana ya rasanya menjadi sang pihak ketiga, dilematis cinta sebenarnya. Cinta suci, jika saja cinta diciptakan murni, tak perlu lagi hal-hal seperti ini.


-ternyata cinta itu secuil pecahan surga dan neraka-


07 February 2010

kalajengking

Kalajengking adalah sebuah arthropoda dengan delapan kaki, termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Dalam kelas ini juga termasuk laba-laba, harvestmen, akarina, dan caplak. Ada sekitar 2000 spesies kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali New Zealand dan Antarctica


----
di atas adalah info singkat tentang kalajengking dari mbak wiki
----

Kalajengking saya adalah kalajengking mekanis, tidak memiliki kaki-kaki beruas untuk berjalan. Berjalan dengan mengandalkan sistem motorik yang dihubungkan dengan sistem rantai pada dua ban silindris. Tanpa makanan atau minuman, tapi hidup dengan bahan bakar.



lebih di kenal dengan scorpio. kalau saya lebih suka menyebutnya dengan "kalanjengking".
Mesin motor ini bertipe empat langkah, dengan SOHC pendingin berdiameter dan langkah : 70x58 mm. Volume silinder :223 cm dengan perbandingan kompresi 9.5 : 1. Rem depan menggunakan cakram double piston, rem belakang menggunakan tromol. Dimensi standar motor scorpio adalah 2020 x 770 x 1090 mm. Daya maksimumnya 19 PS/8.000 RPM, Torsi Maksimum : 1.86 kgf.m/6.500 RPM.
-----info dari wiki-----

Kenapa motor ini diberi nama scorpio? kadang saya memikirkan kaitan antara keduanya. Sungguh berbeda sebenarnya. Kalajengking kerap menaikkan tubuh bagian belakangnya, sehingga sering terlihat "njengking", sedangkan motor scorpio yang menggunakan sistem monocross kerap terlihat "njengat" ke depan seperti motor-motor Harley. Kalajengking juga hewan yang tidak cukup lincah berlari meski memiliki kaki yang banyak, sedangkan motor scorpio cukup lincah untuk dikendarai, cukup kencang, dan mudah dikendalikan. Kalajengking beracun, dan motor ini tidak memberikan racun sedikit pun. Bahkan bagi saya memberi keuntungan. Lalu kenapa di beri nama scorpio?

*menunggu jawaban dari Yamaha

-setengah tahun bersama kalanjengking-

03 February 2010

Analisa Sosial, sebuah pembelajaran

Minggu kemarin saya mengikuti kegiatan Analisa Sosial (ansos) di Salatiga yang diadakan kampus saya. Kegiatannya menarik, mencoba menggugah kami para kaum muda untuk dapat peka dan mengerti masalah-masalah sosial yang ada, melihat lebih dalam sehingga mampu mencari akar dan mencoba membentuk penyelesaian. Memang terasa berat, bahkan baru sampai ke tahap penemuan masalah-masalah sosial saja saya sudah merasa berpikir terlalu berat. Sosial, yang dibahas adalah hubungan manusia dengan manusia, sedangkan manusia itu sendiri selalu berkembang. Sulit, tapi menarik. 

Rangkaian ansos ini dimulai dengan live in selama 3 hari. Saya mendapat kesempatan live in di tempat "juragan" lele. Pengalaman bagus juga, saat saya tinggal di sana. Sosok juragan lele yang saya kira sudah berumur, berkeluarga, ternyata berbeda sekali. Dia sosok pemuda yang mandiri dan berprinsip. Rumahnya hanya rumah kayu kecil dengan satu ruangan saja (menjadi kamarnya), dan rumahnya berada di pinggir kolam-kolam lele-nya yang begitu luas. Di seberang rumah kayunya ada satu rumah kecil lagi (tapi dari batu-bata) untuk tinggal dua orang pegawainya. Kehidupan baginya sungguh mengalir dengan deras, dan ia ada di dalamnya. Mengalir saja menjalani hidup, tapi tidak pernah terperosok terhempas arus. Hidup yang dijalani penuh kebahagiaan dan rileks, tapi juga hidup yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Saya menemukan sosok orang yang terlihat kosong tapi sungguh berisi. Bukan orang yang terlalu merendah dalam candu kehidupan, bukan orang yang terbang bebas di atas kehidupan. Tapi memang tidak ada yang sempurna, bahkan orang yang saya kagumi ini pun juga memiliki kekurangan. Tapi itu tidak mengurangi rasa bangga saya. Hidup bersama juragan lele ini membuka wawasan dan sudut pandang saya. Uang dan kekayaan itu enak dinikmati saat kita merasakan cukup, bukan berlebih.

Setelah kembali dari live in, saya dan peserta ansos yang lain berkumpul lagi selama 3 hari. Kami mengadakan sharing, studi kasus, pemetaan masalah sosial, dan lain-lain. Kami dilatih untuk segera peka terhadap kenyataan hidup sebelum besok kami sudah turun dan terjun langsung sebagai pribadi mandiri di kehidupan. Masalah yang paling menarik untuk saya adalah tentang ketidakadilan. Ada persepsi yang berkata bahwa di dunia ini sedang terjadi ketidakadilan yang terorganisir dengan rapi. Ketidakadilan yang bahkan terkesan wajar dan normal. Tapi kata saya, ketidakadilan itu relatif. Bahkan dari awal kehidupan kita, ketidakadilan sungguh berasa relatif bagi saya. Orang terlahir kaya, terlahir miskin, terlahir pintar, terlahir cacat, terlahir terbelakang, sungguh relatif bagi saya. Dimana letak ketidakadilan jika pada akhirnya hidup itu ada di tangan kita. Hidup yang penuh pilihan, dan kita bebas lepas untuk menentukan pilihan.Bagaimana? Pilihan-pilihan kita bahkan tidak mampu adil untuk diri kita sendiri, sungguh relatif. Itu menurut saya. Tapi teman-teman saya dalam ansos juga memiliki pemikiran-pemikiran sendiri tentang masalah-masalah sosial yang ada, termasuk ketidakadilan. 

Proses ansos belum selesai di sana, kami masih akan menyiapkan satu hari lagi untuk kembali berkumpul dan berdiskusi bersama kembali. Pengalaman menarik dapat ikut analisa sosial ini, pengalaman yang memberikan pembelajaran.



-think globally act locally-