Dulu saat SMA saya pernah memutuskan untuk berkelana meninggalkan Solo. Kemudian kembali ke solo, kuliah, dan akhirnya memutuskan bekerja di Solo meski banyak kawan yang merantau di berbagai kota. Kadang ada beberapa perasaan yang mengatakan bahwa berkutat di kandang itu tidak akan membuat berkembang, merantau-lah yang akan memberi pengalaman dan masa depan. But, life is a choice.
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
-Imam Syafii (767-820M) -
Dan, berani memilih itu berarti berani memutuskan, berarti berani berkorban demi sebuah keputusan, berarti memiliki tujuan hidup meski harus dengan pengorbanan.




7 komentar:
aku moco puisi iki pisanan neng negeri 5 menara,
selalu akan ada "keluarga" di mana pun kita berada,
salam atmi40 mas!
memang nampak lebih baik dan lebih gagah kalau orang bisa merantau meninggalkan kampung halaman. Dengan akhir cerita bahagia layaknya sinetron Indonesia. Saya juga tidak menganggap keputusan tinggal di kampung halaman itu pilihan yang jelek. Semua kembali ke Pilihan seperti yang panjenengan sebutkan di atas. Dengan menyadari segala konsekwensi atas pilihan, akan lebih menguatkan diri untuk berkembang di kampung sendiri. Salam
guk..guk..guk..
tak kancani gan..hihi
mendingan kowe merantau neng akhirat wae ndro. :))
muantap puisinya mas :D
suka banget sama puisinya :)
Post a Comment
monggo silahkan menggonggong