| Lawu, bertahun-tahun yang lalu |
Pernah saya punya pikiran, besok kalau saya ada uang, saya akan membeli berhektar-hektar tanah di tengah kota, kemudian di tanah tersebut akan saya jadikan sawah/ hutan di tengah kota sehingga orang-orang kota akan mengalami kedekatan sendiri dengan alam, dengan Boemi. Pikiran yang gila, menurut teman-temanku. Entah kenapa, pembangunan banyak bangunan di kota semakin lama semakin membuat risih. Setiap tengah hari selalu terasa panas dan gerah. Berbeda dengan suasana ketika saya berada di lereng gunung/ di tengah bumi perkemahan/ di tengah hutan. Suasana selalu tenang, sejuk, nyaman. Dan sekarang, kalau ayah-ibu saya mengajak untuk makan diluar rumah, mereka selalu minta untuk makan di daerah lereng Lawu karena tempatnya sejuk dan nyaman. Para orang tua inilah yang mungkin paling merasakan perbedaan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Mungkin di jaman mereka dulu lingkungan sekitar masih bersahabat dan nyaman, tidak seperti sekarang.
Oh Boemi, kalau dibahas sebab-akibat mungkin tidak akan selesai hingga saya mati nanti, lebih baik pada intinya saja, saya ingin terus mengajak kita semua untuk ikut melestarikan lingkungan hidup di sekitar kita. Bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk apa, dan bukan untuk bagaimana, tapi agar mereka (baca= boemi, lingkungan hidup) semakin setia membantu kehidupan kita, anak-anak kita, dan keturunan kita kelak.
siapa menabur, dia menuai



5 komentar:
JOs mas, mari mencintai bumi!
Setiap kembali ke tawangmangu hausku selama di ibukota terobati
mas, mangnya mau dibantu apa? oh iya
via FB aja sob,ini alamatnya www.facebook.com/imranxrhia
atau tulis namaku aja muhammad imran dias
Salam kenal, mampir balik ya. thank's
meh dadi petani sisan ra ndro?
:p
by the way, nice idea :)
Post a Comment
monggo silahkan menggonggong