05 June 2011

Boemi, Lingkungan Hidup?

Lawu, bertahun-tahun yang lalu
5 Juni 2011, Hari ini diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup 2011 dengan tema: Forest: Nature at Your Service / Hutan Penyangga Kehidupan. Agak asing juga sebenarnya dengan tema tersebut, meskipun secara tidak sadar kita pasti "merasa" sangat akrab dengan kata hutan, lingkungan hidup, nature, dan lain-lain. Dari temanya saja, hutan penyangga kehidupan, bagi saya cukup asing. Bagaimana tidak? peran hutan penyangga kehidupan itu tidak kita rasakan langsung sehari-harinya, apalagi yang sejak kecil tinggal di daerah kota. Yang dialami secara langsung penyangga kehidupan itu ya makanan, minuman, rumah, rekreasi, dan lain-lain. Haha.. lucu ya saya, padahal sudah jelas bahwa hutan memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Sebagai paru-paru bumi, suplai oksigen, penguat tanah, dan lain-lain. Dan semua akibat positif itu mungkin tidak dirasakan manusia secara langsung dan saat ini,  atau dengan kata lain peran hutan itu untuk jangka panjang. Mungkin itulah kenapa manusia tidak ngeh dengan segala ungkapan tentang alam, lingkungan hidup, hutan, dll.
Pernah saya punya pikiran, besok kalau saya ada uang, saya akan membeli berhektar-hektar tanah di tengah kota, kemudian di tanah tersebut akan saya jadikan sawah/ hutan di tengah kota sehingga orang-orang kota akan mengalami kedekatan sendiri dengan alam, dengan Boemi. Pikiran yang gila, menurut teman-temanku. Entah kenapa, pembangunan banyak bangunan di kota semakin lama semakin membuat risih. Setiap tengah hari selalu terasa panas dan gerah. Berbeda dengan suasana ketika saya berada di lereng gunung/ di tengah bumi perkemahan/ di tengah hutan. Suasana selalu tenang, sejuk, nyaman. Dan sekarang, kalau ayah-ibu saya mengajak untuk makan diluar rumah, mereka selalu minta untuk makan di daerah lereng Lawu karena tempatnya sejuk dan nyaman. Para orang tua inilah yang mungkin paling merasakan perbedaan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Mungkin di jaman mereka dulu lingkungan sekitar masih bersahabat dan nyaman, tidak seperti sekarang.
Oh Boemi, kalau dibahas sebab-akibat mungkin tidak akan selesai hingga saya mati nanti, lebih baik pada intinya saja, saya ingin terus mengajak kita semua untuk ikut melestarikan lingkungan hidup di sekitar kita. Bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk apa, dan bukan untuk bagaimana, tapi agar mereka (baca= boemi, lingkungan hidup) semakin setia membantu kehidupan kita, anak-anak kita, dan keturunan kita kelak.

siapa menabur, dia menuai

5 komentar:

Aneksa said...

JOs mas, mari mencintai bumi!

Setandan Pisang said...

Setiap kembali ke tawangmangu hausku selama di ibukota terobati

imran dias said...

mas, mangnya mau dibantu apa? oh iya
via FB aja sob,ini alamatnya www.facebook.com/imranxrhia
atau tulis namaku aja muhammad imran dias

lirik lagu said...

Salam kenal, mampir balik ya. thank's

Pipit Pito said...

meh dadi petani sisan ra ndro?
:p

by the way, nice idea :)

Post a Comment

monggo silahkan menggonggong