Beberapa waktu yang lalu mendapat cerita menarik dari seorang teman. Cerita tentang kegagalan, kesuksesan, pilihan hidup, dan takdir. Namun yang lebih menarik, cerita ini adalah sebuah refleksi dari sebuah pengalaman hidup.
Setiap manusia pasti pernah mengalami rasa kecewa karena kegagalan. Kegagalan karena sesuatu yang kita inginkan itu tidak tercapai, kegagalan karena tidak beruntung, kegagalan karena selalu merasa mendapat kerugian. Dan kegagalan-kegagalan itu ternyata dimaknai dengan sangat cantik oleh teman saya. Orang-orang kerap menyebutnya dengan blessing in disguise. Bahwa selalu ada berkat di balik semua kejadian-kejadian / kegagalan-kegagalan yang tidak kita inginkan. Dan bagaimana seseorang mampu menemukan berkat tersembunyi tersebut, tergantung bagaimana seseorang mampu berpikir dan berefleksi secara pribadi.
Cerita yang mungkin sudah banyak orang yang mendengar, tapi ternyata baru beberapa waktu yang lalu saya mendengarnya.
Suatu hari ada seorang pelaut yang melaut di tengah samudera, kebetulan dia melaut sendirian. Di tengah-tengah samudera, tiba-tiba terjadi badai yang sangat dahsyat. Gulungan ombak datang dan pergi tak kunjung henti. Hujan deras diikuti dengan datangnya petir bersahut-sahutan. Dan langit sudah cukup gelap saat itu. Meski sudah puluhan tahun melaut, pelaut itu tetap bergidik mengalami cuaca yang begitu buruknya. Sembari tangannya kencang menguasai perahu, bibirnya bicara cepat melantunkan doa. Tiba-tiba ada kilat petir diikuti suara yang sangat keras, dan pelaut itu pun kehilangan kesadarannya.
Keesokan paginya, pelaut itu tersadar. Dia masih berada di dalam perahunya, tetapi sudah tidak lagi di tengah laut melainkan di pinggir pantai, di pulau yang sangat sepi. Pelaut itu pun berdoa bersyukur pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Pelaut itu pun memutuskan untuk meneruskan hidupnya. Perahunya dibongkar, dan dibuatnya sebuah gubuk dari kayu-kayu di perahunya. Setelah jadi gubuknya, tampak kokoh dan nyaman melindungi, pergilah sang pelaut ke dalam hutan di tengah pulau, mencari santapan untuk nanti siang. Lama mencari hewan buruan, sore hari baru ia kembali ke gubuk. Saat hampir mencapai gubuknya, kagetlah ia. Gubuknya sudah terbakar api, sudah berkobar-kobar, dengan asap yang mulai menjulang ke atas. Ia kebingungan, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada kran air yang bisa ia semprotkan ke gubuknya yang terbakar. Tidak ada ember untuk mengambil air dari laut sedikit demi sedikit. Ia hanya diam sambil meremas-remas tangan penuh amarah. Sambil menatap gubuknya habis dilalap api, dia pun berteriak: "Gubukku dibakar Tuhan!!" Penuh keputus-asaan dia berteriak-teriak, tidak tahu lagi bagaimana bisa gubukknya terbakar habis tanpa sebab apapun.
Dan seperti apa kelanjutan ceritanya? Ternyata asap dari gubuknya yang terbakar itu membumbung tinggi ke atas, dan sungguh penuh keberuntungan, ada pesawat yang melintas dan sang pilot melihat asap tersebut. Pelaut itu pun dievakuasi dengan pesawat tersebut dan dibawa kembali ke peradabannya.
well, blessing in disguise.
saat ada badai menghadangmu, jangan merasa kesulitan sudah di depan mata. Tolakkan kapalmu ke kanan tujuh kali. Jika masih terhadang, tolakkan kapalmu ke kiri tujuh kali. Jika masih terhadang, barulah kau menemukan kesulitan.




5 komentar:
apik critone! domainku akhirnya berfungsi juga, follow yo!
sebab akibat, sopo nandur bakal ngunduh, ada hikmah dibalik peristiwa, itu yang sering aku dengar... tambah lagi pengetahuanku nih...
Tidak ada yang namanya kebetulan... .Semua adalah rencana Tuhan, setuju... ?
selalu ada kemudahan di setiap kesulitan, hyy indra senang jumpa kamu lagi heheheh, piye kabare, moga bahagia selalu ya, sukses buatmu :-)
judul yang sangat menggoda..
isinya pun tidak kalh menarik dengan judulnya..
rencana tuhan jauh lebih indah..
Post a Comment
monggo silahkan menggonggong