25 June 2011

Johann Balthasar Casutt

Banyak orang pasti yang tidak mengenal nama ini. Beliau memang bukan orang yang terkenal, dan karya-karyanya bukan karya yang nikmat dijadikan bahan hiburan. Bahkan saya, sebenarnya saya tidak mengenal beliau dengan baik. Karya-karyanya pun tidak saya kenal dengan baik. Baru setelah saya membaca buku biografi tentang beliau yang berjudul "Ab Initio Ad Esse", saya menjadi tahu betapa hebatnya dia sebagai seorang manusia.
"Ab Initio Ad Esse"
---dari gagasan menjadi ada, dari keinginan menjadi ada, bahkan dari tidak ada menjadi ada! (Tonny D. Widiastono, editor utama buku Ad Initio Ad Esse)

Pater JB Casutt adalah seorang pastur Katolik berasal dari Swiss yang menjadi misionaris di Indonesia. Beliau datang pertama pada tanggal 27 Februari 1957. Selama di Indonesia, beliau berkarya di Seminari Mertoyudan, Asrama Mahasiswa Realino, ATMI Solo dan ATMI Cikarang. Nama beliau mungkin tidak setenar rekan-rekan biarawan/ rohaniwan katolik di Indonesia seperti Frans Magnis, Sindhunata, Budi Purnomo, dan lain-lain. Bahkan karya beliau juga tidak mengarah ke hal-hal yang bersifat katolik. Beliau lebih dikenal di dunia pendidikan, khususnya bidang teknik. Untuk orang-orang yang sekarang duduk di papan atas dunia industri atau pun dunia teknik Indonesia, pastinya mengenal sosok JB Casutt ini. Beliau sudah banyak mendidik orang-orang yang sekarang bisa dikatakan sukses. Beberapa tahun yang lalu beliau mendapatkan Jacobs Foundation Awards, adalah salah satu lembaga yang memberi penghargaan (award) pada orang-orang yang berjasa pada pengembangan anak dan orang muda (honouring groundbreaking achievements in child and youth development). JB. Cassut mendapatkan penghargaan Best Practice Award for Productive Youth Development atas keberhasilannya mengadopsi bentuk pendidikan kejuruan dan training Swiss di Indonesia. Dikutip dari websitenya, "ATMI graduates are highly sought after, and 60 percent of them start up their own business once they have completed their training. With the ATMI Polytechnic and other vocational training projects, Father Johann Casutt created a model not only for Indonesia but also for other regions in development. A model that with the combination of technical know-how, moral responsibility and social commitment at the workplace promotes the development both of the individual and of the local community over the long term." 
Para alumni Seminari Mertoyudan, alumni Asrama Realino, dan alumni ATMI di masa-masa bimbingannya pasti lebih mengerti bagaimana kehebatan beliau sebagai seorang manusia. Buku biografinya pun disusun oleh para bekas anak bimbingnya. Yang membuat saya kagum, anak-anak bimbingnya tersebut tetap menganggap bahwa kesuksesan yang diraihnya berawal dari hasil bimbingan beliau dahulu kala. 
Begitu banyak karya dan pujian-pujian kebanggaan yang disampaikan para anak bimbingnya dahulu, tapi bukan hal itu yang membuat saya juga terkagum padanya.

Ketika saya memandang JB Casutt sebagai seorang manusia biasa, sambil merefleksikannya dihadapan diri kita sendiri, saat itulah saya menemukan kekaguman yang luar biasa. Ternyata ada, manusia yang mau mengorbankan segala keinginan duniawi pribadi untuk tujuan yang mulia. Dan tujuan mulia itu ternyata memberi dampak positif bagi orang di sekitarnya. Bahkan beliau mau berjuang dan berkorban banyak untuk perkembangan anak didiknya yang bahkan bukan orang sebangsa dengannya. Bukan tentang hal religiusitas/ agama, meskipun beliau seorang biarawan, beliau membuktikan bahwa karya-karya manusiawi-nya menunjukkan bahwa hubungan Allah-manusia itu terwujud indah ketika hubungan manusia-manusia semakin membaik satu sama lain.

ab initio ad esse! Mampukah kita, berguna bagi sesama?

3 komentar:

bhotol said...

halooo thnk'z dah shared ..

iiNgreeN said...

dari penggalan ceritanya, udah bisa kebayang pesan-pesan moral yang ada di buku itu.. thx sharednya..

jelly gamat Gold G sea cucumber jelly said...

wahh bukunya penuh denga pesanmoral dan sangat memotifasi jiga mengingatkan..
buku yang sangat berkualitas..
nice share, thanks for share..

Post a Comment

monggo silahkan menggonggong