Hari-hari ini saya sedikit terbayang-bayang akan dunia kerja. Beberapa hari yang lalu saya diterima kerja di salah satu perusahaan produsen makanan. Dan saat mendapat kabar bahwa saya diterima, entah kenapa tiba-tiba setengah hati saya menanggapinya. Padahal sebelum-sebelumnya, rasanya ingin segera diterima di tempat kerja. Ingin segera menikmati uang dari keringat sendiri, ingin segera hidup bebas lepas, menjadi orang yang bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Eh, seketika semua angan dan keinginan itu hilang ketika pintu dunia kerja mulai terbuka. Karena saya menyadari kalau saya pemalas? mungkin... tapi saya sudah tidak se-biasa itu. Ya, tawaran kerja saya tolak, saya memutuskan untuk merajut hidup di kota Solo, meneruskan kuliah (mungkin) atau bekerja (mungkin juga).
Hari-hari ini saya sering berinteraksi dengan teman-teman di kampus, dengan teman-teman di kontrakan. Belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, revisi bersama, bahkan bermain bersama, atau yang paling simpel adalah makan bersama. Pikiran ini jadi membentuk paradigma dan bayangan-bayangan deskripsi yang agak mempengaruhi. Bayangan tentang dunia saya sekarang dan dunia kerja yang konon katanya sungguh berbeda. Orang-orang terdahulu sebelum saya kerapkali bercerita, dunia kerja itu sungguh kejam dan menyesalkan. Yang semula teman, yang kita cintai sebagai teman, tiba-tiba menggulingkan dan menginjak-injak kita. Seakan tidak ada kata teman atau sahabat, yang ada kata rekan, klien, partner. Dunia kerja, prioritasnya karir dan penghasilan. Membayangkan hal-hal seperti itu, sambil menatap teman-teman di sekitar saya, membuat saya semakin mantap untuk mundur. Lebih baik bekerja berjauhan dengan teman-teman. Agar pertemanan yang sudah terjalin, tidak rapuh terkena hempasan dunia kerja. Tapi, kata beberapa orang terdahulu sebelum saya, juga ada yang mengatakan, terlalu naif kalau menolak pekerjaan hanya karena alasan seperti itu. Memang dunia kerja menuntut hal-hal seperti itu, kesuksesan menuntut sedikit banyak pengorbanan, itulah karir. Diberi wejangan seperti itu, pikiran menjadi terbawa-bawa lagi.
Entahlah, ini hanya ketakutan-ketakutan keluar dari zona kenyamanan mungkin. Dunia mahasiswa saat ini sungguh terlalu nyaman untuk saya. Hidup dan dilimpahi teman-teman yang begitu banyak dan pengertian. Hidup tanpa berpikir terlalu keras dan panjang. Setiap hari cukup melenggang sesuai jadwal dan tatanan yang sudah ada, semua lancar. Sungguh zona nyaman yang sangat menggoda.
Di luar semua itu, saya bersyukur untuk 3 tahun ini. Semoga 3 tahun ke depan, dunia saya tidak lebih buruk dari yang sebelumnya, justru lebih menarik dan aman untuk saya.
Entah kapan, selamat datang dunia kerja.












Posted in
radiyono
No Comments


